JALAN LUHUR DAN SIMPANG PENCERAHAN
Pengantar

Dunia di zaman
sekarang ini senantiasa mengalami proses sekularisasi. Segala sesuatu selalu
dilihat dari kacamata materialitas. Segala hal yang berbau “lama” dianggap
sebagai suatu yang kuno, ketinggalan zaman dan tidak berguna lagi. Peran agama
menjadi sangat kecil di zaman sekarang dan bahkan dianggap tidak perlu. Agama
adalah wilayah pribadi, tidak ada sangkut pautnya dengan hidup bersama dan
moralitas. Karena agama selalu berusaha membatasi gerak-gerik manusia. Dengan
kata lain, agama menghalang-halangi kebebasan manusia. Klaim-klaim dogmatis
agama tentang dosa dan kepasrahan kepada Yang Ilahi, kerap mengkerdilkan daya
kreasi dan imaginasi manusia. Manusia harus tunduk dan patuh dalam ajaran dan perintah agama, dengan
demikian manusia akan dijamin hidup berbahagia kelak di surga. Kebahagiaan yang
menurut Pencerahan adalah kebahagiaan yang tidak pasti dan bentuk pembodohan.[1]
Sapere Aude (beranilah berpikir
sendiri!), demikian semboyan Pencerahan.[2]
Sebuah spirit yang dicetuskan Immanuel Kant. Manusia harus berpikir dengan
dengan otak dan kepalanya sendiri. Semboyan ini adalah ajakan untuk mendobrak
dominasi agama atas diri dan pikiran manusia. Manusia tidak membutuhkan lagi
dogma dan takhayul buta agama, yang sebenarnya sangat membatasi kebebasan
manusia. Sebenarnya semangat Pencerahan sangat baik, adanya kesadaran baru agar
manusia dapat hidup lebih baik dengan mengoptimalkan kemampuan budinya. Manusia
sudah lelah dituntun oleh
dominasi agama selama berabad-abad. Saatnya manusia bangkit dan berjalan di
atas pikirannya sendiri, dengan demikian dapat menentukan hidupnya ke arah yang
lebih baik dan memperoleh “kebahagiaan” dari tangannya sendiri.[3]
Idealitas dan cita-cita Pencerahan amatlah luhur, namun rupanya cita-cita itu
telah berbelok arah dan melewati jalan simpang. Semangat pencerahan dibawa pada
titik yang ekstrem. Di mana tata dunia selalu dipandang secara materialis dan
semua dimensi kehidupan mengalami proses sekularisasi. Kultur mitis-metafisis
tidak mempunyai tempat lagi di dalam segi kehidupan. Manusia terlampau bebas.
Kebebasan manusia bahkan melangkahi etika sosial dan moral pergaulan manusia. Tulisan
ini hendak melihat jalan luhur dan simpang yang telah dilalui Pencerahan, serta
relevansinya dalam kehidupan masyarakat Dayak di Kalimantan.
Latar Belakang Munculnya Pencerahan

Dentuman meriam
modernitas ditembakkan oleh Rene Descartes (1959-1960) dengan istilah “cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku
ada)”. Cogito ergo sum sudah sangat
jelas menyatakan, dengan berpikir maka aku benar-benar ada, ber-eksistensi.
Sebuah istilah yang sangat mengagungkan ratio manusia. Selama berabad-abad
manusia berada dalam dominasi agama.[4] Agamalah yang mempunyai otoritas mengatur dan menentukan semua dimensi
kehidupan manusia. Entah itu dimensi moral, sosial, religius, politik, ekonomi,
ilmu pengetahuan dan sebagainya. Pendeknya tatanan dunia berada dalam kendali
agama. Sistem otoritas agama terbentuk dan dikuatkan pada Abad Pertengahan
(abad V-XV). Sistem ilmu pengetahuan hanya bergulir di balik tembok-tembok
biara. Dengan demikian lahirlah tokoh-tokoh intelektual dan pemikir Gereja sepert; Agustinus,
Anselmus, Thomas Aquinas, Bonaventura, dll. Para pemikir seperti ini hanya
berkutat pada masalah-masalah metafisis tentang Allah, iman dan
kebenaran-kebenaran dogmatis agama (Gereja). Sehingga semakin mengukuhkan
otoritas Gereja dan paus sebagai wakil Allah di dunia. Apa yang dikatakan dan
ditetapkan Gereja (dan paus) harus diikuti oleh semua umat (manusia) karena
merupakan perkataan dan ketetapan Tuhan sendiri lewat perantara Gereja (=paus).
Bahkan Gereja pun mempunyai wewenang untuk mengangkat dan memberhentikan kaisar
atau raja yang berkuasa di daratan Eropa saat itu. Otoritas Gereja tidak
hanya berada di tataran rohani, tetapi juga merambah ke tataran duniawi.
Situasi
dan sistem demikian berlangsung berabad-abad dan semakin mapan. Kaum klerikal
dan religius sangat menikmati situasi semacam itu. Mereka tidak lagi
memperbanyak kehidupan rohani, bahkan hidup sangat materialistis lebih
mementingkan perkara duniawi. Sedangkan masyarakat sederhana, hidup dalam
realitas kemiskinan, kebodohan dan tunduk pasrah atas nasib yang mereka terima.
Tanpa adanya keberanian dan kemampuan untuk keluar dari “jerat” yang telah
dibuat oleh Gereja.
Adanya situasi
demikian, muncullah beberapa pemikir yang sadar dan berusaha memberontak dari
tatanan Gereja berikut dogma-dogma dan takhayul-takhayulnya. Gerakan ini mencapai
puncaknya pada Zaman Pencerahan. Zaman ini dapat dipandang, sebagai kulminasi
optimisme modern terhadap rasio manusia maupun sebagai letusan pemberontakan
yang paling hebat atas cara berpikir metafisis Abad Pertengahan.[5]
Manusia sudah lama hidup dalam bayang-bayang periode kegelapan. Saatnya manusia
bangkit dan berani berpikir dengan kepalanya sendiri, sapere aude!
Kebodohan bukan terjadi karena manusia tidak berpikir, tetapi karena manusia
tidak mengoptimalkan kemampuan rationya. Optimisme ini tentu saja didukung oleh
kemajuan ilmu pengetahuan yang begitu pesat. Pencerahan dilihat sebagai suatu
kesadaran baru akan tanggung jawab untuk memakai ratio itu, karena jika tidak,
kebahagiaan yang dicita-citakan tak akan terwujud.[6] Pencerahan adalah zaman dimana ratio manusia
sunguh-sungguh didewakan setingi-tingginya. Ratio merupakan sang mesias baru
yang menyelamatkan manusia dari kungkungan kebodohan.
Cita-cita Luhur Pencerahan

Keyakinan
yang berdasarkan pengalaman dominasi religius selama berabad-abad, ternyata tidak
menghasilkan kebahagiaan duniawi, justru menghasilkan berbagai bentuk
ketergantungan dan ketakutan karena kepercayaan naif akan takhayul-takhayul. Keyakinan itu mengharuskan
manusia untuk tunduk dan pasrah akan segala yang dialami dan diterima selama
hidupnya di dunia. Kepasrahan adalah bentuk iman penyerahan diri kepada Yang
Ilahi. Barang siapa tekun akan beroleh kebahagiaan abadi yaitu surga. Namun
barang siapa yang tidak setia bahkan melawan dan memberontak tempatnya adalah
neraka. Ajaran-ajaran seperti itu
bagi Pencerahan adalah bentuk pembodohan. Kebahagiaan
yang akan datang adalah sesuatu yang tidak pasti. Pencerahan memastikan bahwa
kebahagiaan itu sekarang tidak sekedar dinantikan, melainkan dapat diwujudkan
dalam kehidupan saat ini asalkan orang mau dan mampu mengandalkan
kekuatan rationya.
Ketakutan
akan tuntutan dogma-dogma agama juga merupakan bentuk pengkerdilan daya
imaginasi dan kreasi manusia, sehingga sampai kapan pun tidak akan pernah
mengalami kemajuan. Syarat utamanya adalah kebebasan, artinya manusia bebas
untuk menggunakan akal budinya untuk menciptakan dan menghasilkan berbagai hal
yang berguna bagi kehidupan yang lebih baik. Manusia harus melepaskan diri dari
ketergantungan pada kekuasaan tradisi dan takut terhadap tabu-tabu religius.
Seorang filsuf Perancis Piere Bayle (1647-1706) berpandangan bahwa motif-motif
non-religius lebih kerap mendorong kehidupan moralitas yang baik.[7]
Kehidupan religius tidak selalu menjamin moralitas hidup yang baik dan bahkan
lebih sering melahirkan pertikaian dan pertumpahan darah karena fanatisme
agama.[8] Mereka yang menganggap diri taat
beragama, dengan dalil membela Tuhan yang mereka puja dan sembah sungguh tega
membinasakan orang lain. Padahal dalam pandangan Pencerahan, Yang Absolut atau
Allah tidak dapat dipastikan karena tidak bisa diindrai dalam kacamata empirik-materialistis.
Ide tentang Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal, tidak
logis dan irrasional.[9] Manusia harus turun dan masuk ke dalam dirinya
sendiri, artinya manusia harus melogiskan ajaran-ajaran yang dipelajarinya dalam
hidup praksis sehari-hari. Sebab apa yang benar dan rasional harus dapat
dibuktikan dalam perbuatan. Pengetahuan manusia harus nyata dalam kehidupan,
bukan hanya sebatas ide-ide abstrak yang tinggi penuh fatamorgana.
Jalan Simpang Pencerahan
Pencerahan adalah puncak pemberontakan manusia atas
dominasi agama dengan segala dogma yang kaku dan takhayul-takhayul metafisiknya
yang menguasai tatanan dunia berabad-abad. Pengetahuan tidak lagi
terkonsentrasi hanya pada dunia atas, dunia ilahi. Sistem pengetahuan lebih
berkonsentrasi pada manusia, terutama akal budinya. Akal budi adalah tanda
keagungan dan keluhuran manusia sebagai manusia. Akal budilah yang membedakan
manusia dengan binatang.


Sebenarnya cita-cita dan tujuan dari
Pencerahan sangatlah mulia, hendak membuka tabir ilusi yang telah dibangun
agama sejak berabad-abad. Ilusi yang mengaburkan dan menodai martabat manusia.
Semangat Pencerahan bukan untuk menghapus ataupun melawan agama, melainkan
kritik atas agama yang telah menyimpang dari jalannya, untuk meluhurkan manusia. Pencerahan ibarat api, apabila
digunakan dengan baik akan sangat membantu manusia, namun bila salah
akan membakar
manusia itu sendiri. Ternyata Pencerahan juga melewati jalan simpang. Orang
dapat memandang program Pencerahan sebagai pembebasan progresif melawan tirani
dan takhayul, dan juga orang dapat memandangnya sebagai
Hal yang paling mencolok dari jalan
simpang Pencerahan adalah semangat mengutamakan kepentingan diri (self interest). Segala hal diukur dalam
ukurun diri sendiri yang akhirnya bermuara pada sikap
egosentrisme. Di sini pula
muncul benih-benih utilitirianisme, memandang apa yang berguna bagi diriku
sendiri. Berimbas pula pada relasi dan pergaulan hidup sehari-hari. Aku akan
bergaul hanya kepada orang dapat menguntungkan diriku saja. Sedangkan sesama
yang merugikan dan mengganggu kepentinganku tidak akan kuhiraukan, kalau perlu
kusingkirkan. Dengan pikiran yang semata-mata rasional bahwa lingkungan dapat dikelola untuk kesejahteraan manusia.
Eksploitasi besar-besaran dan tanpa batas terhadap alam lingkungan, merusak
tatanan harmoni semesta yang telah terjaga selama jutaan tahun. Manusia menjadi
serakah, dan keserakahan pada akhirnya membawa kehancuran pada eksistensi
manusia itu sendiri.[11]
Relevansi
Pencerahan
adalah lompatan gemilang dalam sejarah peradaban manusia. Zaman gelap kebodohan telah berlalu
dan fajar budi telah terbit. Ketidaktahuan tidak lagi membelenggu manusia,
dengan akal budinya manusia dapat mengetahui segala hal. Bahkan keingintahuan
itu semakin besar dan memunculkan ketidakpuasan akan segalanya. Misteri alam
semesta semakin terkuak dan sudut-sudut terjauh angkasa raya telah dijelajahi.
Dengan rationya manusia telah mencapai dan melakukan banyak hal.

Gelombang
Pencerahan senantiasa bergulung-gulung melanda berbagai aspek kehidupan dalam
bentuk modernisasi. Semua hal yang berbau lama tidak relevan lagi dalam
kehidupan di zaman modern. Termasuk di dalamnya adalah kebudayaan dan
adat-istiadat leluhur. Di sini penulis mengambil dari realitas hidup masyarakat
adat Dayak di Kalimantan. Bagi masyarakat Dayak hutan adalah sumber, artinya
dari hutan mereka beroleh makanan, kebutuhan hidup, wilayah untuk hidup. Semua
aktivitas hidup mereka tidak dapat jauh dari hutan. Hutan adalah zona sakral
bagi mereka, tidak sembarangan orang bisa masuk dan mengelolanya. Suku Dayak
meyakini bahwa hutan mempunyai “sesuatu” yang tidak dapat dijelaskan oleh
pikiran rasional. Apabila sembarangan di hutan akan berakibat fatal bagi hidup
keseharian mereka. Bagi mereka hutan tidak semata-mata bermakna ekonomis,
melainkan juga sosio budaya-religius.[12]
Akibat cara pandang empirik-materialistis, perusahaan kayu dan sawit mengekloitasi
hutan sejadi-jadinya tanpa ada rasa hormat atas apa yang diyakini masyarakat
Dayak mengenai hutan. Mitos-mitos dan cerita-cerita rakyat hasil pergaulan
masyarakat Dayak dengan hutan dianggap hanya sebatas dongeng pengantar tidur.
Padahal dibalik mitos dan cerita itu terkandung nilai-nilai kebijaksanaan dan
etika agung yang sangat berguna bagi
kehidupan sehari-hari. Hutan hanya dipandang sebagai penyedia nilai-nilai
ekonomis untuk memenuhi kebutuhan diriku (manusia) agar dapat hidup
berkecukupan dan sejahtera, sifat egosentrisme.
Ciri
khas manusia Dayak adalah hidup komunal di dalam Rumah Panjang. Rumah Panjang
adalah jantung kehidupan masyarakat Dayak, rasa kebersamaan ditanam di dalam
komunitas Rumah Panjang. Hal ini pula tidak luput dari transformasi Pencerahan
yang tekanannya pada kepentingan pribadi (self
interest). Perlahan-lahan ciri komunal Rumah Panjang kian memudar menuju
pada rumah tunggal yang dengan sendirinya membentuk sikap hidup individualis.[13]

Jalan
luhur Pencerahan membuat manusia sadar akan keluhuran martabatnya sebagai
manusia, manusia terbebas dari kungkungan agama (gereja) yang kaku, bebas dan
berani menentukan langkah hidupnya sendiri dengan akal budinya guna mencapai
kehidupan yang lebih baik (kebahagiaan). Namun di sisi lain, Pencerahan juga
melewati jalan simpang yang membawa manusia berada pada titik ekstrem. Artiya,
hidup manusia terlampau materialis, egois-individualistis dan bebas. Singkatnya, sekularisai melanda hidup manusia.
Di sini peran agama menjadi sangat penting sebagai penjaga tradisi dan penjaga
kebenaran moral.[14]
Karena sampai sekarang agama menjadi salah satu dan mungkin satu-satunya
institusi yang berpegang teguh pada dan penjamin kebenaran moral. Pada dasarnya
kritik Pencerahan bukan pada institusi agamanya, tetapi tertuju pada praktek
hidup keagamaan dan tokoh-tokoh agamanya yang sesat dan buta.
Sebagai
kalimat penutup, memang segala hal selalu membawa dua dampak yaitu positif dan
negatif. Tergantung dari pribadi masing-masing hendak memilih dan ikut yang
mana. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan.
[1]
Bdk. F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai
Nietzshe, Jakarta: Gramedia, 2007, hlm. 95.
[2] Bdk. Franz Magnis-Suseno, Menalar Tuhan, Yogyakarta: Kanisius,
2006, hlm. 52.
[3] Bdk. F. Budi Hardiman, Op. Cit, hlm. 95.
[4] Agama yng dimaksudkan disini
adalah Gereja. Terkhusus Gereja Katolik yang telah berabad-abad “menguasai”
daratan Eropa baik dalam ranah rohani maupun duniawi.
[8] Contoh yang paling jelas adalah
FPI dan ISIS. Lih, A.
Setyo Wibowo, dkk, Para Pembunuh Tuhan,
Yogyakarta: Kanisius, 2009, hlm. 23-26.
[9] Bdk.
Franz Magnis-Suseno, Pijar-Pijar
Filsafat: Dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan, dari Adam Muller ke
Postmodernisme, Yogyakarta: Kanisius, 2005, hlm. 17.
[11] Bdk. Max Horkheimer dan Theodeor
W. Adorno, Dialektika Pencerahan,
Yogyakarta: IRCISoD, 2002, hlm. 78. Penj. Ahmad Sahidah, diterj dari buku Dialectic of Enligtment, New York: The
Seabury Press, 1972.
[12] Roedy Haryo Widjono, Masyarakat Dayak Menatap Hari Esok,
Jakarta: Grasindo, 1998, hlm. 68.
[13] Bdk. Stepanus Djuweng (ed.), Manusia Dayak: Orang Kecil Terperangkap
Modernisasi, Pontianak: Institute of Dayakology, 1996, hlm. 16-17.
[14] Bdk. Konrad Kebung, Esai Tentang Manusia: Rasionalisasi dan
Penemuan Ide-ide, Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2008, hlm. 240.