Minggu, 15 Februari 2015

Kritirisasi Abad Pencerahan

JALAN  LUHUR DAN SIMPANG PENCERAHAN
Pengantar

            Dunia di zaman sekarang ini senantiasa mengalami proses sekularisasi. Segala sesuatu selalu dilihat dari kacamata materialitas. Segala hal yang berbau “lama” dianggap sebagai suatu yang kuno, ketinggalan zaman dan tidak berguna lagi. Peran agama menjadi sangat kecil di zaman sekarang dan bahkan dianggap tidak perlu. Agama adalah wilayah pribadi, tidak ada sangkut pautnya dengan hidup bersama dan moralitas. Karena agama selalu berusaha membatasi gerak-gerik manusia. Dengan kata lain, agama menghalang-halangi kebebasan manusia. Klaim-klaim dogmatis agama tentang dosa dan kepasrahan kepada Yang Ilahi, kerap mengkerdilkan daya kreasi dan imaginasi manusia. Manusia harus tunduk dan patuh dalam ajaran dan perintah agama, dengan demikian manusia akan dijamin hidup berbahagia kelak di surga. Kebahagiaan yang menurut Pencerahan adalah kebahagiaan yang tidak pasti dan bentuk pembodohan.[1]
            Sapere Aude (beranilah berpikir sendiri!), demikian semboyan Pencerahan.[2] Sebuah spirit yang dicetuskan Immanuel Kant. Manusia harus berpikir dengan dengan otak dan kepalanya sendiri. Semboyan ini adalah ajakan untuk mendobrak dominasi agama atas diri dan pikiran manusia. Manusia tidak membutuhkan lagi dogma dan takhayul buta agama, yang sebenarnya sangat membatasi kebebasan manusia. Sebenarnya semangat Pencerahan sangat baik, adanya kesadaran baru agar manusia dapat hidup lebih baik dengan mengoptimalkan kemampuan budinya. Manusia sudah lelah dituntun oleh dominasi agama selama berabad-abad. Saatnya manusia bangkit dan berjalan di atas pikirannya sendiri, dengan demikian dapat menentukan hidupnya ke arah yang lebih baik dan memperoleh “kebahagiaan” dari tangannya sendiri.[3] Idealitas dan cita-cita Pencerahan amatlah luhur, namun rupanya cita-cita itu telah berbelok arah dan melewati jalan simpang. Semangat pencerahan dibawa pada titik yang ekstrem. Di mana tata dunia selalu dipandang secara materialis dan semua dimensi kehidupan mengalami proses sekularisasi. Kultur mitis-metafisis tidak mempunyai tempat lagi di dalam segi kehidupan. Manusia terlampau bebas. Kebebasan manusia bahkan melangkahi etika sosial dan moral pergaulan manusia. Tulisan ini hendak melihat jalan luhur dan simpang yang telah dilalui Pencerahan, serta relevansinya dalam kehidupan masyarakat Dayak di Kalimantan.
Latar Belakang Munculnya Pencerahan    

            Dentuman meriam modernitas ditembakkan oleh Rene Descartes (1959-1960) dengan istilah “cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada)”. Cogito ergo sum sudah sangat jelas menyatakan, dengan berpikir maka aku benar-benar ada, ber-eksistensi. Sebuah istilah yang sangat mengagungkan ratio manusia. Selama berabad-abad manusia berada dalam dominasi agama.[4] Agamalah yang mempunyai otoritas mengatur dan menentukan semua dimensi kehidupan manusia. Entah itu dimensi moral, sosial, religius, politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Pendeknya tatanan dunia berada dalam kendali agama. Sistem otoritas agama terbentuk dan dikuatkan pada Abad Pertengahan (abad V-XV). Sistem ilmu pengetahuan hanya bergulir di balik tembok-tembok biara. Dengan demikian lahirlah tokoh-tokoh intelektual dan pemikir Gereja sepert; Agustinus, Anselmus, Thomas Aquinas, Bonaventura, dll. Para pemikir seperti ini hanya berkutat pada masalah-masalah metafisis tentang Allah, iman dan kebenaran-kebenaran dogmatis agama (Gereja). Sehingga semakin mengukuhkan otoritas Gereja dan paus sebagai wakil Allah di dunia. Apa yang dikatakan dan ditetapkan Gereja (dan paus) harus diikuti oleh semua umat (manusia) karena merupakan perkataan dan ketetapan Tuhan sendiri lewat perantara Gereja (=paus). Bahkan Gereja pun mempunyai wewenang untuk mengangkat dan memberhentikan kaisar atau raja yang berkuasa di daratan Eropa saat itu. Otoritas Gereja tidak hanya berada di tataran rohani, tetapi juga merambah ke tataran duniawi.
            Situasi dan sistem demikian berlangsung berabad-abad dan semakin mapan. Kaum klerikal dan religius sangat menikmati situasi semacam itu. Mereka tidak lagi memperbanyak kehidupan rohani, bahkan hidup sangat materialistis lebih mementingkan perkara duniawi. Sedangkan masyarakat sederhana, hidup dalam realitas kemiskinan, kebodohan dan tunduk pasrah atas nasib yang mereka terima. Tanpa adanya keberanian dan kemampuan untuk keluar dari “jerat” yang telah dibuat oleh Gereja.
Adanya situasi demikian, muncullah beberapa pemikir yang sadar dan berusaha memberontak dari tatanan Gereja berikut dogma-dogma dan takhayul-takhayulnya. Gerakan ini mencapai puncaknya pada Zaman Pencerahan. Zaman ini dapat dipandang, sebagai kulminasi optimisme modern terhadap rasio manusia maupun sebagai letusan pemberontakan yang paling hebat atas cara berpikir metafisis Abad Pertengahan.[5] Manusia sudah lama hidup dalam bayang-bayang periode kegelapan. Saatnya manusia bangkit dan berani berpikir dengan kepalanya sendiri, sapere aude! Kebodohan bukan terjadi karena manusia tidak berpikir, tetapi karena manusia tidak mengoptimalkan kemampuan rationya. Optimisme ini tentu saja didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan yang begitu pesat. Pencerahan dilihat sebagai suatu kesadaran baru akan tanggung jawab untuk memakai ratio itu, karena jika tidak, kebahagiaan yang dicita-citakan tak akan terwujud.[6] Pencerahan adalah zaman dimana ratio manusia sunguh-sungguh didewakan setingi-tingginya. Ratio merupakan sang mesias baru yang menyelamatkan manusia dari kungkungan kebodohan.

Cita-cita Luhur Pencerahan

            Keyakinan yang berdasarkan pengalaman dominasi religius selama berabad-abad, ternyata tidak menghasilkan kebahagiaan duniawi, justru menghasilkan berbagai bentuk ketergantungan dan ketakutan karena kepercayaan naif akan takhayul-takhayul. Keyakinan itu mengharuskan manusia untuk tunduk dan pasrah akan segala yang dialami dan diterima selama hidupnya di dunia. Kepasrahan adalah bentuk iman penyerahan diri kepada Yang Ilahi. Barang siapa tekun akan beroleh kebahagiaan abadi yaitu surga. Namun barang siapa yang tidak setia bahkan melawan dan memberontak tempatnya adalah neraka. Ajaran-ajaran seperti itu bagi Pencerahan adalah bentuk pembodohan. Kebahagiaan yang akan datang adalah sesuatu yang tidak pasti. Pencerahan memastikan bahwa kebahagiaan itu sekarang tidak sekedar dinantikan, melainkan dapat diwujudkan dalam kehidupan saat ini asalkan orang mau dan mampu mengandalkan kekuatan rationya.

            Ketakutan akan tuntutan dogma-dogma agama juga merupakan bentuk pengkerdilan daya imaginasi dan kreasi manusia, sehingga sampai kapan pun tidak akan pernah mengalami kemajuan. Syarat utamanya adalah kebebasan, artinya manusia bebas untuk menggunakan akal budinya untuk menciptakan dan menghasilkan berbagai hal yang berguna bagi kehidupan yang lebih baik. Manusia harus melepaskan diri dari ketergantungan pada kekuasaan tradisi dan takut terhadap tabu-tabu religius. Seorang filsuf Perancis Piere Bayle (1647-1706) berpandangan bahwa motif-motif non-religius lebih kerap mendorong kehidupan moralitas yang baik.[7]
       Kehidupan religius tidak selalu menjamin moralitas hidup yang baik dan bahkan lebih sering melahirkan pertikaian dan pertumpahan darah karena fanatisme agama.[8] Mereka yang menganggap diri taat beragama, dengan dalil membela Tuhan yang mereka puja dan sembah sungguh tega membinasakan orang lain. Padahal dalam pandangan Pencerahan, Yang Absolut atau Allah tidak dapat dipastikan karena tidak bisa diindrai dalam kacamata empirik-materialistis. Ide tentang Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal, tidak logis dan irrasional.[9]  Manusia harus turun dan masuk ke dalam dirinya sendiri, artinya manusia harus melogiskan ajaran-ajaran yang dipelajarinya dalam hidup praksis sehari-hari. Sebab apa yang benar dan rasional harus dapat dibuktikan dalam perbuatan. Pengetahuan manusia harus nyata dalam kehidupan, bukan hanya sebatas ide-ide abstrak yang tinggi penuh fatamorgana.   


Jalan Simpang Pencerahan
            Pencerahan adalah puncak pemberontakan manusia atas dominasi agama dengan segala dogma yang kaku dan takhayul-takhayul metafisiknya yang menguasai tatanan dunia berabad-abad. Pengetahuan tidak lagi terkonsentrasi hanya pada dunia atas, dunia ilahi. Sistem pengetahuan lebih berkonsentrasi pada manusia, terutama akal budinya. Akal budi adalah tanda keagungan dan keluhuran manusia sebagai manusia. Akal budilah yang membedakan manusia dengan binatang.

            Sebenarnya cita-cita dan tujuan dari Pencerahan sangatlah mulia, hendak membuka tabir ilusi yang telah dibangun agama sejak berabad-abad. Ilusi yang mengaburkan dan menodai martabat manusia. Semangat Pencerahan bukan untuk menghapus ataupun melawan agama, melainkan kritik atas agama yang telah menyimpang dari jalannya, untuk meluhurkan manusia. Pencerahan ibarat api, apabila digunakan dengan baik akan sangat membantu manusia, namun bila salah akan membakar manusia itu sendiri. Ternyata Pencerahan juga melewati jalan simpang. Orang dapat memandang program Pencerahan sebagai pembebasan progresif melawan tirani dan takhayul, dan juga orang dapat memandangnya sebagai
            Hal yang paling mencolok dari jalan simpang Pencerahan adalah semangat mengutamakan kepentingan diri (self interest). Segala hal diukur dalam ukurun diri sendiri yang akhirnya bermuara pada sikap egosentrisme. Di sini pula muncul benih-benih utilitirianisme, memandang apa yang berguna bagi diriku sendiri. Berimbas pula pada relasi dan pergaulan hidup sehari-hari. Aku akan bergaul hanya kepada orang dapat menguntungkan diriku saja. Sedangkan sesama yang merugikan dan mengganggu kepentinganku tidak akan kuhiraukan, kalau perlu kusingkirkan. Dengan pikiran yang semata-mata rasional bahwa lingkungan dapat dikelola untuk kesejahteraan manusia. Eksploitasi besar-besaran dan tanpa batas terhadap alam lingkungan, merusak tatanan harmoni semesta yang telah terjaga selama jutaan tahun. Manusia menjadi serakah, dan keserakahan pada akhirnya membawa kehancuran pada eksistensi manusia itu sendiri.[11]  

Relevansi
            Pencerahan adalah lompatan gemilang dalam sejarah peradaban manusia. Zaman gelap kebodohan telah berlalu dan fajar budi telah terbit. Ketidaktahuan tidak lagi membelenggu manusia, dengan akal budinya manusia dapat mengetahui segala hal. Bahkan keingintahuan itu semakin besar dan memunculkan ketidakpuasan akan segalanya. Misteri alam semesta semakin terkuak dan sudut-sudut terjauh angkasa raya telah dijelajahi. Dengan rationya manusia telah mencapai dan melakukan banyak hal.

            Gelombang Pencerahan senantiasa bergulung-gulung melanda berbagai aspek kehidupan dalam bentuk modernisasi. Semua hal yang berbau lama tidak relevan lagi dalam kehidupan di zaman modern. Termasuk di dalamnya adalah kebudayaan dan adat-istiadat leluhur. Di sini penulis mengambil dari realitas hidup masyarakat adat Dayak di Kalimantan. Bagi masyarakat Dayak hutan adalah sumber, artinya dari hutan mereka beroleh makanan, kebutuhan hidup, wilayah untuk hidup. Semua aktivitas hidup mereka tidak dapat jauh dari hutan. Hutan adalah zona sakral bagi mereka, tidak sembarangan orang bisa masuk dan mengelolanya. Suku Dayak meyakini bahwa hutan mempunyai “sesuatu” yang tidak dapat dijelaskan oleh pikiran rasional. Apabila sembarangan di hutan akan berakibat fatal bagi hidup keseharian mereka. Bagi mereka hutan tidak semata-mata bermakna ekonomis, melainkan juga sosio budaya-religius.[12] Akibat cara pandang empirik-materialistis, perusahaan kayu dan sawit mengekloitasi hutan sejadi-jadinya tanpa ada rasa hormat atas apa yang diyakini masyarakat Dayak mengenai hutan. Mitos-mitos dan cerita-cerita rakyat hasil pergaulan masyarakat Dayak dengan hutan dianggap hanya sebatas dongeng pengantar tidur. Padahal dibalik mitos dan cerita itu terkandung nilai-nilai kebijaksanaan dan etika agung yang sangat berguna bagi kehidupan sehari-hari. Hutan hanya dipandang sebagai penyedia nilai-nilai ekonomis untuk memenuhi kebutuhan diriku (manusia) agar dapat hidup berkecukupan dan sejahtera, sifat egosentrisme.
            Ciri khas manusia Dayak adalah hidup komunal di dalam Rumah Panjang. Rumah Panjang adalah jantung kehidupan masyarakat Dayak, rasa kebersamaan ditanam di dalam komunitas Rumah Panjang. Hal ini pula tidak luput dari transformasi Pencerahan yang tekanannya pada kepentingan pribadi (self interest). Perlahan-lahan ciri komunal Rumah Panjang kian memudar menuju pada rumah tunggal yang dengan sendirinya membentuk sikap hidup individualis.[13]

            Jalan luhur Pencerahan membuat manusia sadar akan keluhuran martabatnya sebagai manusia, manusia terbebas dari kungkungan agama (gereja) yang kaku, bebas dan berani menentukan langkah hidupnya sendiri dengan akal budinya guna mencapai kehidupan yang lebih baik (kebahagiaan). Namun di sisi lain, Pencerahan juga melewati jalan simpang yang membawa manusia berada pada titik ekstrem. Artiya, hidup manusia terlampau materialis, egois-individualistis dan bebas. Singkatnya, sekularisai melanda hidup manusia. Di sini peran agama menjadi sangat penting sebagai penjaga tradisi dan penjaga kebenaran moral.[14] Karena sampai sekarang agama menjadi salah satu dan mungkin satu-satunya institusi yang berpegang teguh pada dan penjamin kebenaran moral. Pada dasarnya kritik Pencerahan bukan pada institusi agamanya, tetapi tertuju pada praktek hidup keagamaan dan tokoh-tokoh agamanya yang sesat dan buta.
            Sebagai kalimat penutup, memang segala hal selalu membawa dua dampak yaitu positif dan negatif. Tergantung dari pribadi masing-masing hendak memilih dan ikut yang mana. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. 
              
           
               




[1] Bdk. F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzshe, Jakarta: Gramedia, 2007, hlm. 95.
[2] Bdk. Franz Magnis-Suseno, Menalar Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2006, hlm. 52.
[3] Bdk. F. Budi Hardiman, Op. Cit, hlm. 95.
[4] Agama yng dimaksudkan disini adalah Gereja. Terkhusus Gereja Katolik yang telah berabad-abad “menguasai” daratan Eropa baik dalam ranah rohani maupun duniawi. 
[5] F. Budi Hardiman, Op. Cit, hlm. 94.
[6] Ibid, hlm. 97.
[7] Ibid, hlm. 104.
[8] Contoh yang paling jelas adalah FPI dan ISIS. Lih, A. Setyo Wibowo, dkk, Para Pembunuh Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2009, hlm. 23-26. 
[9] Bdk. Franz Magnis-Suseno, Pijar-Pijar Filsafat: Dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan, dari Adam Muller ke Postmodernisme, Yogyakarta: Kanisius, 2005, hlm. 17.
[10] F. Budi Hardiman, Op. Cit, hlm. 98.
[11] Bdk. Max Horkheimer dan Theodeor W. Adorno, Dialektika Pencerahan, Yogyakarta: IRCISoD, 2002, hlm. 78. Penj. Ahmad Sahidah, diterj dari buku Dialectic of Enligtment, New York: The Seabury Press, 1972.

[12] Roedy Haryo Widjono, Masyarakat Dayak Menatap Hari Esok, Jakarta: Grasindo, 1998, hlm. 68.
[13] Bdk. Stepanus Djuweng (ed.), Manusia Dayak: Orang Kecil Terperangkap Modernisasi, Pontianak: Institute of Dayakology, 1996, hlm. 16-17.
[14] Bdk. Konrad Kebung, Esai Tentang Manusia: Rasionalisasi dan Penemuan Ide-ide, Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2008, hlm. 240.






JALAN  LUHUR DAN SIMPANG PENCERAHAN
Pengantar
            Dunia di zaman sekarang ini senantiasa mengalami proses sekularisasi. Segala sesuatu selalu dilihat dari kacamata materialitas. Segala hal yang berbau “lama” dianggap sebagai suatu yang kuno, ketinggalan zaman dan tidak berguna lagi. Peran agama menjadi sangat kecil di zaman sekarang dan bahkan dianggap tidak perlu. Agama adalah wilayah pribadi, tidak ada sangkut pautnya dengan hidup bersama dan moralitas. Karena agama selalu berusaha membatasi gerak-gerik manusia. Dengan kata lain, agama menghalang-halangi kebebasan manusia. Klaim-klaim dogmatis agama tentang dosa dan kepasrahan kepada Yang Ilahi, kerap mengkerdilkan daya kreasi dan imaginasi manusia. Manusia harus tunduk dan patuh dalam ajaran dan perintah agama, dengan demikian manusia akan dijamin hidup berbahagia kelak di surga. Kebahagiaan yang menurut Pencerahan adalah kebahagiaan yang tidak pasti dan bentuk pembodohan.[1]
            Sapere Aude (beranilah berpikir sendiri!), demikian semboyan Pencerahan.[2] Sebuah spirit yang dicetuskan Immanuel Kant. Manusia harus berpikir dengan dengan otak dan kepalanya sendiri. Semboyan ini adalah ajakan untuk mendobrak dominasi agama atas diri dan pikiran manusia. Manusia tidak membutuhkan lagi dogma dan takhayul buta agama, yang sebenarnya sangat membatasi kebebasan manusia. Sebenarnya semangat Pencerahan sangat baik, adanya kesadaran baru agar manusia dapat hidup lebih baik dengan mengoptimalkan kemampuan budinya. Manusia sudah lelah dituntun oleh dominasi agama selama berabad-abad. Saatnya manusia bangkit dan berjalan di atas pikirannya sendiri, dengan demikian dapat menentukan hidupnya ke arah yang lebih baik dan memperoleh “kebahagiaan” dari tangannya sendiri.[3] Idealitas dan cita-cita Pencerahan amatlah luhur, namun rupanya cita-cita itu telah berbelok arah dan melewati jalan simpang. Semangat pencerahan dibawa pada titik yang ekstrem. Di mana tata dunia selalu dipandang secara materialis dan semua dimensi kehidupan mengalami proses sekularisasi. Kultur mitis-metafisis tidak mempunyai tempat lagi di dalam segi kehidupan. Manusia terlampau bebas. Kebebasan manusia bahkan melangkahi etika sosial dan moral pergaulan manusia. Tulisan ini hendak melihat jalan luhur dan simpang yang telah dilalui Pencerahan, serta relevansinya dalam kehidupan masyarakat Dayak di Kalimantan.
Latar Belakang Munculnya Pencerahan    
            Dentuman meriam modernitas ditembakkan oleh Rene Descartes (1959-1960) dengan istilah “cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada)”. Cogito ergo sum sudah sangat jelas menyatakan, dengan berpikir maka aku benar-benar ada, ber-eksistensi. Sebuah istilah yang sangat mengagungkan ratio manusia. Selama berabad-abad manusia berada dalam dominasi agama.[4] Agamalah yang mempunyai otoritas mengatur dan menentukan semua dimensi kehidupan manusia. Entah itu dimensi moral, sosial, religius, politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Pendeknya tatanan dunia berada dalam kendali agama. Sistem otoritas agama terbentuk dan dikuatkan pada Abad Pertengahan (abad V-XV). Sistem ilmu pengetahuan hanya bergulir di balik tembok-tembok biara. Dengan demikian lahirlah tokoh-tokoh intelektual dan pemikir Gereja sepert; Agustinus, Anselmus, Thomas Aquinas, Bonaventura, dll. Para pemikir seperti ini hanya berkutat pada masalah-masalah metafisis tentang Allah, iman dan kebenaran-kebenaran dogmatis agama (Gereja). Sehingga semakin mengukuhkan otoritas Gereja dan paus sebagai wakil Allah di dunia. Apa yang dikatakan dan ditetapkan Gereja (dan paus) harus diikuti oleh semua umat (manusia) karena merupakan perkataan dan ketetapan Tuhan sendiri lewat perantara Gereja (=paus). Bahkan Gereja pun mempunyai wewenang untuk mengangkat dan memberhentikan kaisar atau raja yang berkuasa di daratan Eropa saat itu. Otoritas Gereja tidak hanya berada di tataran rohani, tetapi juga merambah ke tataran duniawi.
            Situasi dan sistem demikian berlangsung berabad-abad dan semakin mapan. Kaum klerikal dan religius sangat menikmati situasi semacam itu. Mereka tidak lagi memperbanyak kehidupan rohani, bahkan hidup sangat materialistis lebih mementingkan perkara duniawi. Sedangkan masyarakat sederhana, hidup dalam realitas kemiskinan, kebodohan dan tunduk pasrah atas nasib yang mereka terima. Tanpa adanya keberanian dan kemampuan untuk keluar dari “jerat” yang telah dibuat oleh Gereja.
Adanya situasi demikian, muncullah beberapa pemikir yang sadar dan berusaha memberontak dari tatanan Gereja berikut dogma-dogma dan takhayul-takhayulnya. Gerakan ini mencapai puncaknya pada Zaman Pencerahan. Zaman ini dapat dipandang, sebagai kulminasi optimisme modern terhadap rasio manusia maupun sebagai letusan pemberontakan yang paling hebat atas cara berpikir metafisis Abad Pertengahan.[5] Manusia sudah lama hidup dalam bayang-bayang periode kegelapan. Saatnya manusia bangkit dan berani berpikir dengan kepalanya sendiri, sapere aude! Kebodohan bukan terjadi karena manusia tidak berpikir, tetapi karena manusia tidak mengoptimalkan kemampuan rationya. Optimisme ini tentu saja didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan yang begitu pesat. Pencerahan dilihat sebagai suatu kesadaran baru akan tanggung jawab untuk memakai ratio itu, karena jika tidak, kebahagiaan yang dicita-citakan tak akan terwujud.[6] Pencerahan adalah zaman dimana ratio manusia sunguh-sungguh didewakan setingi-tingginya. Ratio merupakan sang mesias baru yang menyelamatkan manusia dari kungkungan kebodohan.

Cita-cita Luhur Pencerahan
            Keyakinan yang berdasarkan pengalaman dominasi religius selama berabad-abad, ternyata tidak menghasilkan kebahagiaan duniawi, justru menghasilkan berbagai bentuk ketergantungan dan ketakutan karena kepercayaan naif akan takhayul-takhayul. Keyakinan itu mengharuskan manusia untuk tunduk dan pasrah akan segala yang dialami dan diterima selama hidupnya di dunia. Kepasrahan adalah bentuk iman penyerahan diri kepada Yang Ilahi. Barang siapa tekun akan beroleh kebahagiaan abadi yaitu surga. Namun barang siapa yang tidak setia bahkan melawan dan memberontak tempatnya adalah neraka. Ajaran-ajaran seperti itu bagi Pencerahan adalah bentuk pembodohan. Kebahagiaan yang akan datang adalah sesuatu yang tidak pasti. Pencerahan memastikan bahwa kebahagiaan itu sekarang tidak sekedar dinantikan, melainkan dapat diwujudkan dalam kehidupan saat ini asalkan orang mau dan mampu mengandalkan kekuatan rationya.
            Ketakutan akan tuntutan dogma-dogma agama juga merupakan bentuk pengkerdilan daya imaginasi dan kreasi manusia, sehingga sampai kapan pun tidak akan pernah mengalami kemajuan. Syarat utamanya adalah kebebasan, artinya manusia bebas untuk menggunakan akal budinya untuk menciptakan dan menghasilkan berbagai hal yang berguna bagi kehidupan yang lebih baik. Manusia harus melepaskan diri dari ketergantungan pada kekuasaan tradisi dan takut terhadap tabu-tabu religius. Seorang filsuf Perancis Piere Bayle (1647-1706) berpandangan bahwa motif-motif non-religius lebih kerap mendorong kehidupan moralitas yang baik.[7] Kehidupan religius tidak selalu menjamin moralitas hidup yang baik dan bahkan lebih sering melahirkan pertikaian dan pertumpahan darah karena fanatisme agama.[8] Mereka yang menganggap diri taat beragama, dengan dalil membela Tuhan yang mereka puja dan sembah sungguh tega membinasakan orang lain. Padahal dalam pandangan Pencerahan, Yang Absolut atau Allah tidak dapat dipastikan karena tidak bisa diindrai dalam kacamata empirik-materialistis. Ide tentang Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal, tidak logis dan irrasional.[9]  Manusia harus turun dan masuk ke dalam dirinya sendiri, artinya manusia harus melogiskan ajaran-ajaran yang dipelajarinya dalam hidup praksis sehari-hari. Sebab apa yang benar dan rasional harus dapat dibuktikan dalam perbuatan. Pengetahuan manusia harus nyata dalam kehidupan, bukan hanya sebatas ide-ide abstrak yang tinggi penuh fatamorgana.   

Jalan Simpang Pencerahan
            Pencerahan adalah puncak pemberontakan manusia atas dominasi agama dengan segala dogma yang kaku dan takhayul-takhayul metafisiknya yang menguasai tatanan dunia berabad-abad. Pengetahuan tidak lagi terkonsentrasi hanya pada dunia atas, dunia ilahi. Sistem pengetahuan lebih berkonsentrasi pada manusia, terutama akal budinya. Akal budi adalah tanda keagungan dan keluhuran manusia sebagai manusia. Akal budilah yang membedakan manusia dengan binatang.
            Sebenarnya cita-cita dan tujuan dari Pencerahan sangatlah mulia, hendak membuka tabir ilusi yang telah dibangun agama sejak berabad-abad. Ilusi yang mengaburkan dan menodai martabat manusia. Semangat Pencerahan bukan untuk menghapus ataupun melawan agama, melainkan kritik atas agama yang telah menyimpang dari jalannya, untuk meluhurkan manusia. Pencerahan ibarat api, apabila digunakan dengan baik akan sangat membantu manusia, namun bila salah akan membakar manusia itu sendiri. Ternyata Pencerahan juga melewati jalan simpang. Orang dapat memandang program Pencerahan sebagai pembebasan progresif melawan tirani dan takhayul, dan juga orang dapat memandangnya sebagai profanisasi kehidupan.[10]     
            Hal yang paling mencolok dari jalan simpang Pencerahan adalah semangat mengutamakan kepentingan diri (self interest). Segala hal diukur dalam ukurun diri sendiri yang akhirnya bermuara pada sikap egosentrisme. Di sini pula muncul benih-benih utilitirianisme, memandang apa yang berguna bagi diriku sendiri. Berimbas pula pada relasi dan pergaulan hidup sehari-hari. Aku akan bergaul hanya kepada orang dapat menguntungkan diriku saja. Sedangkan sesama yang merugikan dan mengganggu kepentinganku tidak akan kuhiraukan, kalau perlu kusingkirkan. Dengan pikiran yang semata-mata rasional bahwa lingkungan dapat dikelola untuk kesejahteraan manusia. Eksploitasi besar-besaran dan tanpa batas terhadap alam lingkungan, merusak tatanan harmoni semesta yang telah terjaga selama jutaan tahun. Manusia menjadi serakah, dan keserakahan pada akhirnya membawa kehancuran pada eksistensi manusia itu sendiri.[11]  

Relevansi
            Pencerahan adalah lompatan gemilang dalam sejarah peradaban manusia. Zaman gelap kebodohan telah berlalu dan fajar budi telah terbit. Ketidaktahuan tidak lagi membelenggu manusia, dengan akal budinya manusia dapat mengetahui segala hal. Bahkan keingintahuan itu semakin besar dan memunculkan ketidakpuasan akan segalanya. Misteri alam semesta semakin terkuak dan sudut-sudut terjauh angkasa raya telah dijelajahi. Dengan rationya manusia telah mencapai dan melakukan banyak hal.
            Gelombang Pencerahan senantiasa bergulung-gulung melanda berbagai aspek kehidupan dalam bentuk modernisasi. Semua hal yang berbau lama tidak relevan lagi dalam kehidupan di zaman modern. Termasuk di dalamnya adalah kebudayaan dan adat-istiadat leluhur. Di sini penulis mengambil dari realitas hidup masyarakat adat Dayak di Kalimantan. Bagi masyarakat Dayak hutan adalah sumber, artinya dari hutan mereka beroleh makanan, kebutuhan hidup, wilayah untuk hidup. Semua aktivitas hidup mereka tidak dapat jauh dari hutan. Hutan adalah zona sakral bagi mereka, tidak sembarangan orang bisa masuk dan mengelolanya. Suku Dayak meyakini bahwa hutan mempunyai “sesuatu” yang tidak dapat dijelaskan oleh pikiran rasional. Apabila sembarangan di hutan akan berakibat fatal bagi hidup keseharian mereka. Bagi mereka hutan tidak semata-mata bermakna ekonomis, melainkan juga sosio budaya-religius.[12] Akibat cara pandang empirik-materialistis, perusahaan kayu dan sawit mengekloitasi hutan sejadi-jadinya tanpa ada rasa hormat atas apa yang diyakini masyarakat Dayak mengenai hutan. Mitos-mitos dan cerita-cerita rakyat hasil pergaulan masyarakat Dayak dengan hutan dianggap hanya sebatas dongeng pengantar tidur. Padahal dibalik mitos dan cerita itu terkandung nilai-nilai kebijaksanaan dan etika agung yang sangat berguna bagi kehidupan sehari-hari. Hutan hanya dipandang sebagai penyedia nilai-nilai ekonomis untuk memenuhi kebutuhan diriku (manusia) agar dapat hidup berkecukupan dan sejahtera, sifat egosentrisme.
            Ciri khas manusia Dayak adalah hidup komunal di dalam Rumah Panjang. Rumah Panjang adalah jantung kehidupan masyarakat Dayak, rasa kebersamaan ditanam di dalam komunitas Rumah Panjang. Hal ini pula tidak luput dari transformasi Pencerahan yang tekanannya pada kepentingan pribadi (self interest). Perlahan-lahan ciri komunal Rumah Panjang kian memudar menuju pada rumah tunggal yang dengan sendirinya membentuk sikap hidup individualis.[13]
            Jalan luhur Pencerahan membuat manusia sadar akan keluhuran martabatnya sebagai manusia, manusia terbebas dari kungkungan agama (gereja) yang kaku, bebas dan berani menentukan langkah hidupnya sendiri dengan akal budinya guna mencapai kehidupan yang lebih baik (kebahagiaan). Namun di sisi lain, Pencerahan juga melewati jalan simpang yang membawa manusia berada pada titik ekstrem. Artiya, hidup manusia terlampau materialis, egois-individualistis dan bebas. Singkatnya, sekularisai melanda hidup manusia. Di sini peran agama menjadi sangat penting sebagai penjaga tradisi dan penjaga kebenaran moral.[14] Karena sampai sekarang agama menjadi salah satu dan mungkin satu-satunya institusi yang berpegang teguh pada dan penjamin kebenaran moral. Pada dasarnya kritik Pencerahan bukan pada institusi agamanya, tetapi tertuju pada praktek hidup keagamaan dan tokoh-tokoh agamanya yang sesat dan buta.
            Sebagai kalimat penutup, memang segala hal selalu membawa dua dampak yaitu positif dan negatif. Tergantung dari pribadi masing-masing hendak memilih dan ikut yang mana. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. 
              
           
               



[1] Bdk. F. Budi Hardiman, Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzshe, Jakarta: Gramedia, 2007, hlm. 95.
[2] Bdk. Franz Magnis-Suseno, Menalar Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2006, hlm. 52.
[3] Bdk. F. Budi Hardiman, Op. Cit, hlm. 95.
[4] Agama yng dimaksudkan disini adalah Gereja. Terkhusus Gereja Katolik yang telah berabad-abad “menguasai” daratan Eropa baik dalam ranah rohani maupun duniawi. 
[5] F. Budi Hardiman, Op. Cit, hlm. 94.
[6] Ibid, hlm. 97.
[7] Ibid, hlm. 104.
[8] Contoh yang paling jelas adalah FPI dan ISIS. Lih, A. Setyo Wibowo, dkk, Para Pembunuh Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2009, hlm. 23-26. 
[9] Bdk. Franz Magnis-Suseno, Pijar-Pijar Filsafat: Dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan, dari Adam Muller ke Postmodernisme, Yogyakarta: Kanisius, 2005, hlm. 17.
[10] F. Budi Hardiman, Op. Cit, hlm. 98.
[11] Bdk. Max Horkheimer dan Theodeor W. Adorno, Dialektika Pencerahan, Yogyakarta: IRCISoD, 2002, hlm. 78. Penj. Ahmad Sahidah, diterj dari buku Dialectic of Enligtment, New York: The Seabury Press, 1972.
[12] Roedy Haryo Widjono, Masyarakat Dayak Menatap Hari Esok, Jakarta: Grasindo, 1998, hlm. 68.
[13] Bdk. Stepanus Djuweng (ed.), Manusia Dayak: Orang Kecil Terperangkap Modernisasi, Pontianak: Institute of Dayakology, 1996, hlm. 16-17.
[14] Bdk. Konrad Kebung, Esai Tentang Manusia: Rasionalisasi dan Penemuan Ide-ide, Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2008, hlm. 240.