Minggu, 26 Januari 2014

Gurita Kapitalisme

DARI TEKNOLOGI MENUJU IDEOLOGI

Pengantar
            Manusia zaman ini adalah manusia zaman teknologi. Manusia hidup dalam era yang serba digital, dimana-mana sangat mudah dijumpai orang mengenggam handphone, gadget, tablet, laptop dan sejenisnya. Orang akan merasa rendah diri bila tidak mempunyai HP atau bahkan ia merasa malu jika HP yang dimilikinya sudah ketinggalan zaman. Untuk mengetahui keadaan dan informasi di belahan bumi lain pun orang tidak perlu lagi harus datang dan menyaksikannya secara langsung cukup duduk dan membuka internet maka tersaji informasi dari berbagai penjuru dunia. Dunia menjadi sebuah kampung global[1] dimana tidak lagi batasan wilayah, negara dan benua. Semuanya dengan begitu mudah diketahui hanya lewat internet dan TV.
            Dalam dunia kerja. Manusia modern tidak perlu lagi bersusah-susah memeras otak dan tenaga secara berlebihan. Semuanya sudah ditangani oleh mesin-mesin industri. Mesin bekerja lima kali lebih cepat dari manusia, sehingga waktu tidak terbuang percuma, tidak memerlukan tenaga yang ekstra, hasil produksi meningkat, kerugian produksi bisa diminimalkan dan keuntungan semakin berlipat-lipat. Masih banyak lagi kemudahan-kemudahan yang ditawarkan dan diberikan oleh sesuatu bernama TEKNOLOGI. Semuanya terasa begitu efektif, mudah dan menyenangkan.
            Dalam histeria massa atas segala kemudahan dan kelimpahan yang ditawarkan teknologi, manusia merasa lepas bebas dari beban kerja yang berlebihan dan meletihkan. Teknologi dianggap sebagai “juruselamat” bagi manusia.[2] Manusia tidak perlu lagi bekerja-keras membanting tulang untuk memenuhi setiap kebutuhannya semua telah ditangani oleh teknologi. Namun tanpa disadari, dibalik kemudahan dan kelimpahan teknologi bersembunyi perbudakan dan pengekangan yang siap menerkam manusia.[3] Teknologi dengan perlahan-lahan merayap dan menjadi sebuah ideologi yang memaksa manusia untuk tunduk dan patuh kepadanya.

Perkembangan Teknologi
            Dunia adalah sebuah realitas perubahan, tidak ada yang statis dalam dunia ini. Segala sesuatu mengalami perubahan dan tunduk pada hukum perubahan. Filsuf pertama yang berbicara tentang realitas perubahan adalah Heraclitos. Ungkapan yang terkenal dari Heraclitos yaitu“panta rei” (semua mengalir). Orang tidak akan pernah masuk pada aliran sungai yang sama, artinya bahwa air terus mengalir dan aliran air yang pertama diganti oleh aliran yang kedua begitu seterusnya.
            Pemikiran manusia juga senantiasa berkembang. Dari pemikiran yang primitif menuju pada pemikiran yang modern, mitos menuju pada logos. Dinamika perkembangan pemikiran itu selalu menyesuaikan diri dengan zamannya. Dengan kata lain didasarkan pada keadaan alam, masyarakat dan segala sesuatu yang terjadi pada zamannya. Anak-anak zaman berusaha menafsirkan dan mengolah setiap perubahan yang terjadi.
            Contoh yang paling jelas dari perkembangan pemikiran manusia adalah sistem alat-alat kerja (produksi). Pada zaman batu manusia hanya menggunakan peralatan dari batu untuk memenuhi kebutuhannya. Lalu berkembang dengan menggunakan peralatan dari besi seperti kapak, sabit, cangkul, pedang dan sebagainya. Dan terus berkembang memasuki era modern, era di mana segala hal dikerjakan oleh mesin-mesin hasil karya budi manusia. Menurut Herbert Marcuse “kebutuhan adalah ibu dari segala penemuan”.[4] Artinya manusia adalah mahluk butuh, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia harus bekerja dan dalam berkerja manusia memerlukan sarana dan prasarana untuk semakin memudahkannya. Jadi realitas manusia adalah sebagai mahluk butuh sekaligus sebagai mahluk kerja (hommo laborans). Kedua hakekat ini secara otomatis melahirkan teknologi. Teknologi sudah terukir dalam pikiran manusia sebagai mahluk berkebutuhan sekaligus mahluk bekerja.[5] Skema perkembangannya sebagai berikut berawal dari mitos menuju pada logos hingga akhirnya terciptalah teknologos.

Pengekangan dan Manipulasi Buah dari Teknologi
            Berbicara mengenai teknologi tidak bisa dilepaskan kaitannya dari dunia kerja. Setiap ada pekerjaan dapat dipastikan adanya alat-alat kerja, sangat mustahil orang bekerja tanpa dibantu oleh alat-alat kerja untuk memudahkan pekerjaannya. Kedua hal ini tidak bisa dipisahkan karena merupakan dua hal yang esensial.
            Dalam zaman modern seperti sekarang ini dunia kerja kelihatannya sangat begitu mudah. Maksudnya dalam bekerja orang pada zaman pra-mesin harus membanting tulang dengan lebih keras, membutuhkan tenaga yang ekstra, waktu yang relatif lama namun hasil yang didapatkan sangat minim. Segala sesuatu dikerjakan dengan manual. Tapi setelah ditemukannya mesin-mesin produksi keadaan berbalik 180 derajat. Manusia tidak perlu lagi membuang tenaga, pikiran dan waktu secara berlebihan karena segala hal yang manual digantikan oleh mesin-mesin produksi yang bekerja lebih cepat, efektif dan efisien daripada manusia. Dalam waktu singkat manusia dengan bantuan mesin-mesin dapat menghasilkan barang-barang produksi dalam skala banyak, kerugian produksi diminimalisir karena cara kerja mesin yang tepat-guna dan tentu saja waktu istirahat manusia jadi lebih banyak. Manusia seolah-olah dimanjakan dan dininabobokan oleh teknologi. Namun dibalik kenyataan yang membahagiakan dan memanjakan itu, tanpa disadari terpampang realitas manipulatif dan pengekangan atas hidup manusia yang dalam istilah Karl Marx dinamakan “alienasi kerja”.[6]
            Teknologi memang terlihat sepintas membuat manusia santai, tidak terbebani oleh beban kerja yang menumpuk. Tapi bila dicermati lebih seksama sebenarnya manusia dikontrol oleh teknologi. Manusia masuk dalam kekangan sistem teknologi. Manusia bekerja dengan sistem kompetisi yang tidak sehat yang saling menjatuhkan. Profesionalitas kerja lebih ditekankan. Manusia juga harus tunduk pada jadwal produksi yang mengikat. Ketika individu tidak professional dan disiplin dalam bekerja maka ia akan kalah bersaing sehingga perlahan-lahan hancur dengan sendirinya. Pengekangan yang terjadi dilakukan secara halus dan memikat sehingga manusia tidak menyadarinya atau mungkin manusia menyadari tapi menganggap hal itu wajar-wajar saja sebagai bayaran atas kemudahan-kemudahan yang diberikan teknologi.
Proses pemanipulasian pola pikir manusia itu sudah ditanamkan sejak masa kanak-kanak yaitu dengan prinsip prestasi. Orang dituntut untuk terus berprestasi dalam hidupnya. Bila orang tidak berprestasi maka ia akan dianggap bodoh dan tidak berguna. Sebaliknya ketika seseorang berprestasi akan disanjung setinggi langit sebagai manusia berkualitas. Orang tua akan bangga bila anaknya berprestasi, agar anaknya berprestasi para orang tua berbondong-bondong memasukkan anak mereka ke tempat kursus, les, pelatihan, sekolah atau perguruan tinggi yang bergengsi dan sejenisnya. Anak tidak diberikan kebebasan untuk memilih apa yang disukainya. Maka di sini pula terjadi pengekangan yang dimanipulasi berkedok prestasi.
           
Teknologi Menjadi Ideologi
            Bagi Marcuse teknologi bukan lagi semata-mata sebagai teknologi, atau hanya sebatas mesin-mesin produksi yang membantu dan memudahkan manusia bekerja memenuhi kebutuhannya. Tapi teknologi telah berubah menjadi ideologi. Marcuse menyatakan:
Dewasa ini, kekuasaan melestarikan dan memperluas dirinya tidak hanya melalui teknologi melainkan sebagai teknologi, dan teknologi menyediakan legitimasi yang kuat bagi kekuasaan politis yang sedang meluas, yang mengabsorpsi segala bidang kehidupan.[7]
            Manusia yang terbuai oleh teknologi tanpa sadar ditelan oleh kekuasaan dan kekuatan teknologi sebagai sistem mutlak yang menguasai berbagai bidang kehidupan manusia. Ironinya penindasan dan penguasaan itu seakan hilang dari kesadaran manusia karena proses indoktrinasi.  Hal ini terletak pada semakin meningkatnya produktivitas dan penguasaan atas hidup manusia yang memungkinkan kehidupan manusia menjadi semakin nyaman.[8]
            Teknologi menjadi dasar para penguasa untuk menglanggengkan kedudukannya. Setiap individu yang menamakan dirinya manusia modern harus tunduk dan patuh pada sistem ideologi ini, yaitu ideologi teknologi. Hal ini dapat dilihat dari adanya pembentukan realitas teknologis dalam masyarakat. Teknologi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup masyarakat. Teknologi menjadi sebuah tolok ukur dan standar dalam pergaulan, menjalin relasi dan pekerjaan sehari-hari. Segala sesuatu diukur dalam bingkai dan cara kerja teknologi. Manusia diubah menjadi robot hidup yang disetir dan dikendalikan oleh ideologi teknologi dengan gaung kesejahteraan sosial. Teknologi menguasai manusia secara mutlak dan menyeluruh. Dan manusia menerima begitu saja tanpa ada rasa untuk melawan, sebab manusia sudah diprogram untuk diam.
Kritik terhadap Teknologi
            Penggunaan teknologi secara massal dalam kehidupan sehari-hari membawa pengaruh besar dan luar biasa bagi manusia sekarang ini. Segala hal menjadi sangat mudah dan tidak merepotkan lagi. Dapat dikatakan bahwa manusia sangat dibantu dengan adanya teknologi. Teknologi memang sudah menggantikan posisi manusia dalam hampir semua bidang kerjanya. Bagaimanapun juga, kehadiran teknologi perlu disambut dengan baik dan diamini.[9] Pemanfaatan mesin-mesin teknologi hampir merata di semua bidang kehidupan. Hal ini tentunya memberikan peluang bagi manusia untuk semakin makmur dan mudah dalam memenuhi kebutuhannya.
            Tetapi perlu juga disadari bahwa kehadiran teknologi di dalam kehidupan masyarakat modern sekarang ini harus juga dibarengi dengan sikap kritis. Teknologi tidak selalu membawa dampak yang baik bagi perkembangan peradaban manusia. Teknologi tidak pernah netral karena dibalik kegelimangan teknologi ternyata bersembunyi suatu tirani ideologi yaitu kapitalisme. Manusia harus tanggap akan hal ini. Teknologi adalah anak dari kapitalisme. Kapitalisme mengelabui manusia dengan kemudahan-kemudahan yang dihasilkan oleh teknologi. Manusia terjerat dalam pusaran kapitalisme. Sepintas manusia begitu diagungkan oleh sistem kapitalisme, tepatnya oleh teknologi, namun tanpa sadar sebenarnya dibawa ke dalam kegelapan Hades[10] yang menyiksa. Manusia sebenarnya dipermainkan teknologi dan menjadi budak teknologi.
            Kapitalisme ternayata memaksakan beragam persyaratan politik dan ekonomi (melalui teknologi) untuk mengontrol dan mengendalikan manusia.[11] Kapitalisme semacam memberikan kebutuhan palsu kepada manusia. Manusia dituntut untuk segera memenuhi kebutuhanya dengan tawaran-tawaran menggoda, padahal manusia tidak membutuhkannya. Hal itu semata-mata hanya karena gengsi. Manusia dikondisikan dengan sedemikian rupa sehingga tidak mengetahui lagi apa yang menjadi kebutuhan dasarnya. Bahkan mungkin manusia sudah lupa akan hakekat dirinya. Kapitalisme begitu sangat berkuasa sehingga bisa melakukan apapun yang dikehendakinya. Kapitalisme memproklamirkan dirinya sebagai pejuang kesejahteraan bersama, namun semuanya itu hanyalah topeng. Kapitalisme bekerja demi kepentingan dirinya dan perangkat-perangkat yang mengikutinya. Dan itu semua bekerja dalam diri teknologi-teknologi modern. Manusia yang seolah dihibur ternyata hancur, dipuja ternyata dinista, oleh teknologi yang ternyata ideologi.        






[1]Riszard Kapuscinski, The Other, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012, 71.
[2]Bdk. Valentinus Saeng, CP, Herbert  Marcuse-Perang Semesta Melawan Kapitalisme Global, Jakarta: Gramedia, 2012, 27.
[3]Ibid.
[4]Ibid. 199.
[5]Bdk. A. Widyarsono, Teknologi dan Sains sebagai “Ideologi” dalam Diskursus Kemasyarakatan dan Kemanusiaan, Jakarta: Gramedia, 1993, 99.
[6][6]Lih. Ibid. R. Haryono Imam, Louis Dupre Alienasi Kultural dalam Pemikiran Karl Marx, 30.
[7] Ibid. A. Widyarsono, Teknologi dan Sains sebagai “Ideologi” dalam Diskursus Kemasyarakatan dan Kemanusiaan, 93.
[8] Ibid. 92.
[9] Bdk. opcit. Valentinus Saeng CP, 254.
[10]  Hades dalam mitologi Yunani adalah kerajaan bawah yang  diperintah oleh Dewa Pluto. Dimana manusia disiksa akibat dari kejahatannya di dunia. Seperti di neraka.
[11] Ibid. Valentinus Saeng CP, 255.