Jumat, 18 Mei 2012

Orang Lain bagian dari Eksistensi ku


Orang Lain Bagian Kepenuhanku


“Know your self”. Pijakan awal berfilsafat, artinya kesadaran “aku”  memainkan peran yang penting. Menyadari nama, karakter, bakat, dan kekurangan belum merupakan kesadaran  “aku” itu semua sebatas informasi tentang aku. Know your self adalah mencari kebijaksanan[1].
            Kesadaran “aku” tidak bisa lepas dari kesadaran bahwa “ada” orang lain. Kehadiran orang lain tidak dapat dihindari. Maka Ortega y Gaset mengatakan aku “ada-belum-penuh” merindukan orang lain untuk memenuhinya.
            “Ada-belum-penuh”  pertama-tama menunjukan sebuah realitas kekurangan. Tetapi, jika disimak lebih dalam, manusia sebagai “ada-belum-penuh” justru  menampilkan kreativitas. Seakan-akan di dalam diri manusia terdapat “ruang kosong” untuk diisi sesamanya. Dengan demikian “ada-belum-penuh” memungkinkan orang lain untuk memenuhinya.
                Konsep tentang manusia sebagai “ada-belum-penuh” menjelaskan kodrat relasional. Manusia berelasi artinya manusia memberi ruang agar manusia lain memenuhi dirinya. Kehadiran orang lain lantas menjadi penuh makna. Kehadiran orang lain “memenuhi” kekurangan dari “aku”. (Armada Riyanto, Aku dan Liyan, Malang: Widya Sasana Publication, 2011, hlm.18-19).

Siapakah Orang Lain ?
            Orang lain adalah manusia yang berada di luar badanku. Tapi bukan berarti yang berada di luar kesadaranku. “Aku” menyadari bahwa orang lain itu ada, sebagaimana aku sendiri adalah ada. Orang lain juga menyadari akan keberadaan diriku. Karena orang lain juga ikut dalam ceritaku. Orang lain juga turut merangkai cerita tentang “aku”.
            Pada dasarnya hubungan manusia menurut tiga dimensi, yaitu pada dunia, pada sesama manusia, dan pada Allah[2]. Namun dalam praktek hidup sehari-hari manusia lebih banyak berhubungan dengan sesamanya manusia. Ada sebuah ungkapan “manusia dibentuk oleh lingkungannya”[3]. Lingkungan yang dimaksud adalah sesama atau orang lain yang berada di sekelilingku. Karena dari merekalah “aku” tahu tentang dunia dan dari mereka pula “aku” belajar tentang dunia.

Kehadiran yang Tak Terbantahkan[4]
            Dalam kehidupan sehari-sehari manusia seolah-olah disibukkan dengan dirinya sendiri. Manusia merajut dunianya sendiri, sehingga kurang memberikan makna pada kehadiran orang lain. Padahal sejatinya manusia sangat membutuhkan orang lain untuk dapat hidup. “Aku” dan orang lain tak dapat terpisahkan sehingga untuk mengenal dirinya secara utuh ia membutuhkan orang lain yang menilai dan memberikan tanggapan atas semua tentang dirinya[5].
            Manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa kehadiran orang lain. Hal ini sangat sederhana sehingga banyak orang tidak menyadarinya. Contoh kecil, dalam hal makan “aku” memerlukan  orang lain untuk memasaknya, membutuhkan orang lain untuk menyediakannya, belum lagi segala peralatan makan pasti dibuat oleh orang lain. Dan banyak hal yang menandakan “aku” tidak bisa lepas dari orang lain.
            Maka dapat dikatakan sebuah keegoisan terbesar bila ada ungkapan bahwa “aku bisa hidup sendiri” atau “aku tidak membutuhkan orang lain”. Dalam sebuah relasi manusia membutuhkan dan merindukan orang lain  untuk berbagi seperti; teman, sahabat, pacar, istri atau suami. Semakin jelaslah bahwa setiap pribadi selalu menyisakan “tempat kosong” untuk diisi orang lain. Dengan demikian kehadiran orang lain menjadi sangat bermakna dan tak dapat disangkal. Maka tidak mengherankan bila ada orang yang rela bunuh diri ketika putus cinta karena kehilangan bagian dari dirinya. Sebab ia menganggap pacar, istri atau suaminya bagian dari kepenuhannya yang tidak tergantikan.

Sebuah “Relasi”
            Relasi[6] mempunyai arti yang sangat luas bisa berbicara, berkontak, berhubungan, berkomunikasi dan sebagainya. Namun intinya relasi mengandaikan adanya kontak antara dua orang atau lebih. Syaratnya relasi bisa tejadi apabila “aku” memiliki kesadaran mengenai “ke-aku-annya” dengan ciptaan lain yang juga memiliki kesadaran tentang “ke-aku-annya”[7].
             Ketika manusia memaknai kehadiran orang lain sebagai bagian dari kepenuhannya maka terjadilah sebuah relasi yang harmonis. Manusia terus-menerus berelasi dengan sesamanya; dengan orang tua, keluarga, teman, masyarakat dan dunia. Ketika lahir ia membutuhkan ibu untuk mengurusnya, ketika bermain ia membutuhkan teman-teman sebagai kelompok bermainnya, dan seterusnya sampai ia mati. Maka dapat disimpulkan dalam setiap aktivitas hidupnya seorang manusia selalu berhubungan dengan manusia-manusia lainnya.

Aku dan Orang Lain Harus Bersatu
            Manusia hidup di dunia, dunia yang dipenuhi banyak orang. Manusia tidak bisa hidup sendirian maka hakikatnya manusia tidak bisa dilepaskan dari orang lain. Manusia juga tidak bisa menyangkal kehadiran orang lain dan tidak dapat merajut dunianya sendiri tanpa ada kehadiran orang lain di dalamnya. Sebab orang lain semakin mengukuhkan “aku” yang penuh. Tidaklah mengherankan kalau dalam diri setiap manusia selalu menyisakan “ruang kosong” untuk diisi orang lain.
            “Aku” dan orang lain harus bersatu agar kehadiranku dan kehadiran orang lain tidaklah sia-sia sehingga terjadilah relasi sempurna[8]. Relasi yang saling melengkapi dan memenuhi karena orang lain bagian dari kepenuhanku.    
                       

      


[1] Armada Riyanto, Aku dan Liyan, Malang: Widya Sasana Publication, 2011, hlm. 3.
[2] P Leenhouwers, Manusia dalam Lingkungannya, Jakarta: Gramedia, 1988, hlm. 190.
[3] Bdk. Brian Fay, Filsafat Ilmu Sosial Kontemporer,Yogyakarta: Jendela, 2002, hlm. 99.
[4] Bdk. P Leenhouwers, Op.Cit. hlm., 193.
[5] Bdk. Ibid, hlm. 192.
[6] Dalam KKBI relasi  mempunyai arti hubungan, kenalan dan pelanggan
[7] Bdk. Armada Riyanto, Aku dan Liyan, Malang: Widya Sasana Publication, 2011, hlm.12-13.
8 Bdk. Ibid, hlm.19. 

Rabu, 16 Mei 2012

Aku Bagian Orang Lain

FILSAFAT “AKU”
Tujuan berfilsafat adalah mencari sebuah kebenaran sejati. Pertama-tama filsafat harus dimulai dengan kesadaran tentang “aku”. Di dalam “aku” tersimpan sebuah kebenaran sejati yang tak ternilai.
Apakah “aku” itu? Filsafat dimulai dari pertanyaan. Pertanyaan adalah bentuk keheranan dan  rasa kagum yang “memaksa” kita untuk mencari jawaban atasnya, itulah berfilsafat.  Kembali ke pertanyaan “Apakah aku itu?”. “Aku” adalah “ada”, ada yang bukan berarti tidak hilang. Pengetahuanku tentang  aku “ada” adalah kesadaran bahwa “aku” manusia “ada” dalam kepenuhannya. Tidak cukup kita hanya sadar tahu mengenai asal, kelemahan, kekuatan, karakter, nama, dan sebagainya karena itu semua hanya sebuah informasi tentang “aku’. Hal itu belum merupakan kesadaran tentang aku. Kesadaran “aku” melebihi pengamatan inderawi manusia. Kesadaran “aku” sekaligus sesuatu yang invibillis[1] yaitu jiwa. Jiwa dan raga adalah dua prinsip yang membentuk “aku”, walaupun keduanya saling bertentangan. Apa yang diinginkan jiwa belum tentu apa yang diinginkan raga begitu pula sebaliknya. Jiwa prinsipnya kekal abadi sedangkan raga prinsip fana, hanya sementara, mudah rusak dan hilang. Tapi keduanya berpadu dalam diri “aku” manusia.



Di dalam kesadaran akan “aku” termuat harta benda yang berharga, yang harus senantiasa  digali dan dibagikan (diaktualisasikan) dalam hidup. Karena di dalamnya tersimpan semua kebenaran yang sungguh-sungguh indah. Manusia sadar akan akan “aku” yang ada yang utuh (penuh). Memang kodratnya diciptakan lain daripada yang lain. “Aku”  sebagai ada yang istimewa, istimewa karena aku “ada” bukan berarti ada yang tidak hilang atau tidak ada di tempat. Tapi kesadaran akan “ke-aku-an”ku itu yang tidak dimiliki mahkluk  ciptaan lainnya. Istimewa karena “aku” bisa berpikir, mempunyai akal budi. Cogito Ergo Sum (aku berpikir maka aku ada) dideklarasikan Descartes mau menegaskan bahwa manusia sangat istimewa dari binatang. Memang “aku” binatang tapi binatang yang berakal budi.
Kesadaran “aku” juga membawa penyadaran aku yang subjektif bukan objektif. Artinya aku sadar bahwa aku aktor utama dalam seluruh aktivitas manusiaku. Bukan milik tangan atau kakiku dan anggota tubuh yang lainnya yang merupakan pembentuk keutuhan diriku sebagai manusia yang “ada”. Misalnya aku menendang bola, yang menendang bola bukan hanya kaki saja tapi aku. Yang jelas aku menendang menggunakan kakiku karena menendang sebuah aktivitas. Makna “aku” subjektif adalah aku pemilik semua realitas ke-ada-an-ku.
Aku subjektif juga membawa kodrat aku dialogal (berelasi). Aku yang berelasi membutuhkan yang lain yang juga harus memiliki kesadaran akan “keakuannya” dan itulah yang memungkinkan adanya relasi. Karena “aku” yang lain semakin mengukuhkan “aku” yang penuh dan subjek. Manusia tidak dapat berelasi dengan dirinya sendiri. Maka Ortega y Gaset mengatakan “aku” masih menyisakan “ruang kosong” untuk diisi “aku” yang lain[2]. Aku sebagai pribadi membutuhkan orang lain untuk semakin mendukung “aku” sebagai suatu realitas yang penuh. Misalnya untuk mempunyai baju aku harus membeli dari orang lain, bahannya dibuat orang lain, dan sebagainya. Hal yang penting aku merindukan seseorang untuk memenuhi bagian diriku yang kosong untuk saling berbagi dan melengkapi. Aku tak bisa lepas dari orang lain, mereka bagian dari kemanusianku, bagian dari kehadiranku.
Tuhan menciptakan manusia dengan kesadaran keakuannya yang subjek, penuh, berelasi dan sebagainya. Tidak hanya agar “aku” dapat berhubungan dengan alam dan “aku” yang lain, tapi pertama-tama agar “aku” dapat berelasi dengan Tuhan. Tuhan menyapa aku menanggapi, Tuhan bertanya aku menjawab. Itulah inti sari dari kesadaran “aku”, relasi antara “aku” dan Penciptanya. Satu hal yang perlu dicatat relasi aku dengan Tuhan akan baik apabila relasiku dengan alam dan sesama manusia baik, begitu pula sebaliknya.
Seperti yang dijelaskan di atas. “Aku” yang ada mempunyai dua prinsip dasar jiwa dan raga (badan). Jiwa merindukan pembebasan dari kurungan raga agar bahagia. Tapi bagaimana pun juga kenyataannya “aku” hidup dalam dunia yang fana. Maka dapat diartikan bahwa hidup ini hanya sementara sekedar mampir minum. Menunggu kapan jiwa bebas dari raga. Dalam proses menunggu ini apakah “aku” hanya duduk dan diam saja?? Tidak! “aku” harus melakukan kebajikan-kebajikan untuk sesamaku, alamku, dan Tuhanku. Nah!! Itulah filsafat sejati mencari kebenaran sejati dan melakukan kebenaran sejati. Bukan filsafat yang mengawang-awang tapi nyata dalam perkataan dan perbuatan sehari-hari untuk sampai kepada Allah Sang “Aku adalah Aku yang Ada” (Kel 3:14).   
FILSAFAT “LIYAN”        
            Sebelum mengetahui tentang “Liyan” pertama harus mengenali diri sendiri “Know Your Self”. Berbagai macam ilmu pengetahuan diberikan agar manusia dapat mengenal dirinya. Know Your Self” sebuah kesadaran untuk terus mencari kebijaksanaan.
            Dalam Filsafat Timur “the self” adalah “Atman”. Atman yang abadi, di luar akal budi, tak bisa disentuh oleh pengalaman inderawi, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Atman sumber kebijaksanaan sejati itu yang hadir dalam diri semua orang. Apabila manusia masuk ke dalam Atman. Ia akan menemukan kebahagiaan, memeluk kebijaksanaan dan memberinya kesegaran air hidup yang indah. Maka dapat dikatakan Atman adalah Tuhan sendiri. Tuhan yang hadir dalam aku dan orang lain[3]. Otomatis Liyan harus dihormati sebab tanda kehadiran Sang Absolut.
            Tapi kenyataannya!! Dari zaman ke zaman “liyan” identik dengan subyek penderita, orang yang disingkirkan, orang yang tak dikehendaki, dan berada di luar peradaban. Maka Sartre mendeklarasikan ungkapan “hell is the other” yang “mengagungkan” eksistensi diri. Bukan berarti menolak keberadaan orang lain bahkan melenyapkannya. Tapi seorang eksistensialis merangkai dunianya sendiri tanpa harus diganggu orang lain. Selama orang tidak mengganggu duniaku, aku juga tidak mengganggu duniamu.
            Seorang eksistensialis sadar bahwa tidak bisa lepas dari orang lain. Eksistensialisme lahir dari ketidaknyamanan dalam masyarakat. Ia ikut aktif dalam hidup bermasyarakat dengan sikap kritisnya pada ketidakadilan. Ia tidak menyetujui hukum dan aturan yang membatasi manusia untuk mengekspresikan dirinya. Baginya hukumlah yang me”liyan”kan. Baginya manusia memiliki kebebasan mutlak untuk mengatur dirinya sendiri. Tanpa ada sesuatu yang mengekang seolah-olah mengendalikan semuanya.
            Siapakah “liyan” bagi eksitensialis?. Liyan adalah orang yang mengancam dunianya. Orang yang merampas kebebasanku dan kepenuhan aktualisasi diriku. Kebebasan yang mutlak dalam eksistensialis, adalah kebebasan yang bertanggungjawab pada diri sendiri dan orang lain. Maka sangat jelas “tanggung jawab” yang dapat menciptakan dunia yang lebih harmonis.




















[1] Invibillis= kasat mata, tidak bisa dilihat mata inderawi.
[2] Istilah Ortega y Gaset “ada-belum-penuh”
[3]Agama Hindu India meyakini Atman adalah Tuhan yang ada dalam setiap individu.