DARI TEKNOLOGI MENUJU IDEOLOGI
Pengantar
Manusia zaman ini adalah manusia zaman
teknologi. Manusia hidup dalam era yang serba digital, dimana-mana sangat mudah
dijumpai orang mengenggam handphone, gadget, tablet, laptop dan sejenisnya.
Orang akan merasa rendah diri bila tidak mempunyai HP atau bahkan ia merasa malu
jika HP yang dimilikinya sudah ketinggalan zaman. Untuk mengetahui keadaan dan informasi
di belahan bumi lain pun orang tidak perlu lagi harus datang dan menyaksikannya
secara langsung cukup duduk dan membuka internet maka tersaji informasi dari berbagai
penjuru dunia. Dunia menjadi sebuah kampung global[1] dimana
tidak lagi batasan wilayah, negara dan benua. Semuanya dengan begitu mudah diketahui
hanya lewat internet dan TV.
Dalam dunia kerja. Manusia modern
tidak perlu lagi bersusah-susah memeras otak dan tenaga secara berlebihan. Semuanya
sudah ditangani oleh mesin-mesin industri. Mesin bekerja lima kali lebih cepat dari
manusia, sehingga waktu tidak terbuang percuma, tidak memerlukan tenaga yang ekstra,
hasil produksi meningkat, kerugian produksi bisa diminimalkan dan keuntungan semakin
berlipat-lipat. Masih banyak lagi kemudahan-kemudahan yang ditawarkan dan diberikan
oleh sesuatu bernama TEKNOLOGI. Semuanya terasa begitu efektif, mudah dan menyenangkan.
Dalam histeria massa atas segala kemudahan
dan kelimpahan yang ditawarkan teknologi, manusia merasa lepas bebas dari beban
kerja yang berlebihan dan meletihkan. Teknologi dianggap sebagai “juruselamat”
bagi manusia.[2]
Manusia tidak perlu lagi bekerja-keras membanting tulang untuk memenuhi setiap kebutuhannya
semua telah ditangani oleh teknologi. Namun tanpa disadari, dibalik kemudahan dan
kelimpahan teknologi bersembunyi perbudakan dan pengekangan yang siap menerkam manusia.[3] Teknologi
dengan perlahan-lahan merayap dan menjadi sebuah ideologi yang memaksa manusia untuk
tunduk dan patuh kepadanya.
Dunia
adalah sebuah realitas perubahan, tidak ada yang statis dalam dunia ini. Segala
sesuatu mengalami perubahan dan tunduk pada hukum perubahan. Filsuf pertama
yang berbicara tentang realitas perubahan adalah Heraclitos. Ungkapan yang
terkenal dari Heraclitos yaitu“panta rei”
(semua mengalir). Orang tidak akan pernah masuk pada aliran sungai yang sama,
artinya bahwa air terus mengalir dan aliran air yang pertama diganti oleh aliran
yang kedua begitu seterusnya.
Pemikiran manusia juga senantiasa berkembang.
Dari pemikiran yang primitif menuju pada pemikiran yang modern, mitos menuju pada
logos. Dinamika perkembangan pemikiran itu selalu menyesuaikan diri dengan zamannya.
Dengan kata lain didasarkan pada keadaan alam, masyarakat dan segala sesuatu
yang terjadi pada zamannya. Anak-anak zaman berusaha menafsirkan dan mengolah setiap
perubahan yang terjadi.
Contoh yang paling jelas dari perkembangan
pemikiran manusia adalah sistem alat-alat kerja (produksi). Pada zaman batu manusia
hanya menggunakan peralatan dari batu untuk memenuhi kebutuhannya. Lalu berkembang
dengan menggunakan peralatan dari besi seperti kapak, sabit, cangkul, pedang dan
sebagainya. Dan terus berkembang memasuki era modern, era di mana segala hal dikerjakan
oleh mesin-mesin hasil karya budi manusia. Menurut Herbert Marcuse “kebutuhan adalah
ibu dari segala penemuan”.[4] Artinya
manusia adalah mahluk butuh, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia harus bekerja
dan dalam berkerja manusia memerlukan sarana dan prasarana untuk semakin memudahkannya.
Jadi realitas manusia adalah sebagai mahluk butuh sekaligus sebagai mahluk kerja
(hommo laborans). Kedua hakekat ini secara
otomatis melahirkan teknologi. Teknologi sudah terukir dalam pikiran manusia sebagai
mahluk berkebutuhan sekaligus mahluk bekerja.[5] Skema
perkembangannya sebagai berikut berawal dari mitos menuju pada logos hingga akhirnya
terciptalah teknologos.
Pengekangan dan Manipulasi Buah dari Teknologi
Berbicara
mengenai teknologi tidak bisa dilepaskan kaitannya dari dunia kerja. Setiap ada
pekerjaan dapat dipastikan adanya alat-alat kerja, sangat mustahil orang
bekerja tanpa dibantu oleh alat-alat kerja untuk memudahkan pekerjaannya. Kedua
hal ini tidak bisa dipisahkan karena merupakan dua hal yang esensial.
Dalam zaman modern seperti sekarang ini
dunia kerja kelihatannya sangat begitu mudah. Maksudnya dalam bekerja orang
pada zaman pra-mesin harus membanting tulang dengan lebih keras, membutuhkan tenaga
yang ekstra, waktu yang relatif lama namun hasil yang didapatkan sangat minim. Segala
sesuatu dikerjakan dengan manual. Tapi setelah ditemukannya mesin-mesin produksi
keadaan berbalik 180 derajat. Manusia tidak perlu lagi membuang tenaga, pikiran
dan waktu secara berlebihan karena segala hal yang manual digantikan oleh mesin-mesin
produksi yang bekerja lebih cepat, efektif dan efisien daripada manusia. Dalam waktu
singkat manusia dengan bantuan mesin-mesin dapat menghasilkan barang-barang produksi
dalam skala banyak, kerugian produksi diminimalisir karena cara kerja mesin
yang tepat-guna dan tentu saja waktu istirahat manusia jadi lebih banyak. Manusia
seolah-olah dimanjakan dan dininabobokan oleh teknologi. Namun dibalik kenyataan
yang membahagiakan dan memanjakan itu, tanpa disadari terpampang realitas manipulatif
dan pengekangan atas hidup manusia yang dalam istilah Karl Marx dinamakan
“alienasi kerja”.[6]
Teknologi memang terlihat sepintas membuat
manusia santai, tidak terbebani oleh beban kerja yang menumpuk. Tapi bila dicermati
lebih seksama sebenarnya manusia dikontrol oleh teknologi. Manusia masuk dalam kekangan
sistem teknologi. Manusia bekerja dengan sistem kompetisi yang tidak sehat yang
saling menjatuhkan. Profesionalitas kerja lebih ditekankan. Manusia juga harus tunduk
pada jadwal produksi yang mengikat. Ketika individu tidak professional dan
disiplin dalam bekerja maka ia akan kalah bersaing sehingga perlahan-lahan hancur
dengan sendirinya. Pengekangan yang terjadi dilakukan secara halus dan memikat sehingga
manusia tidak menyadarinya atau mungkin manusia menyadari tapi menganggap hal
itu wajar-wajar saja sebagai bayaran atas kemudahan-kemudahan yang diberikan teknologi.
Proses
pemanipulasian pola pikir manusia itu sudah ditanamkan sejak masa kanak-kanak yaitu
dengan prinsip prestasi. Orang dituntut untuk terus berprestasi dalam hidupnya.
Bila orang tidak berprestasi maka ia akan dianggap bodoh dan tidak berguna. Sebaliknya
ketika seseorang berprestasi akan disanjung setinggi langit sebagai manusia berkualitas.
Orang tua akan bangga bila anaknya berprestasi, agar anaknya berprestasi para
orang tua berbondong-bondong memasukkan anak mereka ke tempat kursus, les,
pelatihan, sekolah atau perguruan tinggi yang bergengsi dan sejenisnya. Anak tidak
diberikan kebebasan untuk memilih apa yang disukainya. Maka di sini pula
terjadi pengekangan yang dimanipulasi berkedok prestasi.
Teknologi Menjadi Ideologi
Bagi
Marcuse teknologi bukan lagi semata-mata sebagai teknologi, atau hanya sebatas
mesin-mesin produksi yang membantu dan memudahkan manusia bekerja memenuhi
kebutuhannya. Tapi teknologi telah berubah menjadi ideologi. Marcuse
menyatakan:
Dewasa
ini, kekuasaan melestarikan dan memperluas dirinya tidak hanya melalui
teknologi melainkan sebagai teknologi, dan teknologi menyediakan legitimasi
yang kuat bagi kekuasaan politis yang sedang meluas, yang mengabsorpsi segala
bidang kehidupan.[7]
Manusia yang terbuai oleh teknologi
tanpa sadar ditelan oleh kekuasaan dan kekuatan teknologi sebagai sistem mutlak
yang menguasai berbagai bidang kehidupan manusia. Ironinya penindasan dan
penguasaan itu seakan hilang dari kesadaran manusia karena proses indoktrinasi.
Hal ini terletak pada semakin meningkatnya
produktivitas dan penguasaan atas hidup manusia yang memungkinkan kehidupan
manusia menjadi semakin nyaman.[8]
Teknologi menjadi dasar para
penguasa untuk menglanggengkan kedudukannya. Setiap individu yang menamakan
dirinya manusia modern harus tunduk dan patuh pada sistem ideologi ini, yaitu
ideologi teknologi. Hal ini dapat dilihat dari adanya pembentukan realitas
teknologis dalam masyarakat. Teknologi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari
hidup masyarakat. Teknologi menjadi sebuah tolok ukur dan standar dalam
pergaulan, menjalin relasi dan pekerjaan sehari-hari. Segala sesuatu diukur
dalam bingkai dan cara kerja teknologi. Manusia diubah menjadi robot hidup yang
disetir dan dikendalikan oleh ideologi teknologi dengan gaung kesejahteraan
sosial. Teknologi menguasai manusia secara mutlak dan menyeluruh. Dan manusia
menerima begitu saja tanpa ada rasa untuk melawan, sebab manusia sudah
diprogram untuk diam.
Kritik terhadap Teknologi
Penggunaan
teknologi secara massal dalam kehidupan sehari-hari membawa pengaruh besar dan
luar biasa bagi manusia sekarang ini. Segala hal menjadi sangat mudah dan tidak
merepotkan lagi. Dapat dikatakan bahwa manusia sangat dibantu dengan adanya
teknologi. Teknologi memang sudah menggantikan posisi manusia dalam hampir
semua bidang kerjanya. Bagaimanapun juga, kehadiran teknologi perlu disambut
dengan baik dan diamini.[9]
Pemanfaatan mesin-mesin teknologi hampir merata di semua bidang kehidupan. Hal
ini tentunya memberikan peluang bagi manusia untuk semakin makmur dan mudah
dalam memenuhi kebutuhannya.
Tetapi perlu juga disadari bahwa
kehadiran teknologi di dalam kehidupan masyarakat modern sekarang ini harus
juga dibarengi dengan sikap kritis. Teknologi tidak selalu membawa dampak yang
baik bagi perkembangan peradaban manusia. Teknologi tidak pernah netral karena
dibalik kegelimangan teknologi ternyata bersembunyi suatu tirani ideologi yaitu
kapitalisme. Manusia harus tanggap akan hal ini. Teknologi adalah anak dari
kapitalisme. Kapitalisme mengelabui manusia dengan kemudahan-kemudahan yang
dihasilkan oleh teknologi. Manusia terjerat dalam pusaran kapitalisme. Sepintas
manusia begitu diagungkan oleh sistem kapitalisme, tepatnya oleh teknologi,
namun tanpa sadar sebenarnya dibawa ke dalam kegelapan Hades[10]
yang menyiksa. Manusia sebenarnya dipermainkan teknologi dan menjadi budak
teknologi.
Kapitalisme ternayata memaksakan
beragam persyaratan politik dan ekonomi (melalui teknologi) untuk mengontrol
dan mengendalikan manusia.[11]
Kapitalisme semacam memberikan kebutuhan palsu kepada manusia. Manusia dituntut
untuk segera memenuhi kebutuhanya dengan tawaran-tawaran menggoda, padahal
manusia tidak membutuhkannya. Hal itu semata-mata hanya karena gengsi. Manusia
dikondisikan dengan sedemikian rupa sehingga tidak mengetahui lagi apa yang
menjadi kebutuhan dasarnya. Bahkan mungkin manusia sudah lupa akan hakekat
dirinya. Kapitalisme begitu sangat berkuasa sehingga bisa melakukan apapun yang
dikehendakinya. Kapitalisme memproklamirkan dirinya sebagai pejuang
kesejahteraan bersama, namun semuanya itu hanyalah topeng. Kapitalisme bekerja
demi kepentingan dirinya dan perangkat-perangkat yang mengikutinya. Dan itu
semua bekerja dalam diri teknologi-teknologi modern. Manusia yang seolah
dihibur ternyata hancur, dipuja ternyata dinista, oleh teknologi yang ternyata
ideologi.
[1]Riszard Kapuscinski, The Other,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012, 71.
[2]Bdk. Valentinus Saeng, CP, Herbert
Marcuse-Perang Semesta Melawan Kapitalisme
Global, Jakarta: Gramedia, 2012, 27.
[5]Bdk. A. Widyarsono, Teknologi dan Sains
sebagai “Ideologi” dalam Diskursus Kemasyarakatan dan Kemanusiaan, Jakarta:
Gramedia, 1993, 99.
[7] Ibid. A. Widyarsono, Teknologi dan Sains sebagai “Ideologi” dalam
Diskursus Kemasyarakatan dan Kemanusiaan, 93.
[8] Ibid. 92.
[9] Bdk. opcit. Valentinus Saeng CP, 254.
[10] Hades dalam mitologi Yunani
adalah kerajaan bawah yang diperintah
oleh Dewa Pluto. Dimana manusia disiksa akibat dari kejahatannya di dunia.
Seperti di neraka.
[11] Ibid. Valentinus Saeng CP, 255.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar