Orang Lain Bagian Kepenuhanku
“Know
your self”. Pijakan awal berfilsafat, artinya kesadaran “aku” memainkan peran yang penting. Menyadari nama,
karakter, bakat, dan kekurangan belum merupakan kesadaran “aku” itu semua sebatas informasi tentang aku.
Know your self adalah mencari kebijaksanan[1].
Kesadaran
“aku” tidak bisa lepas dari kesadaran bahwa “ada” orang lain. Kehadiran orang
lain tidak
dapat dihindari. Maka Ortega y Gaset mengatakan aku “ada-belum-penuh”
merindukan orang lain untuk memenuhinya.
“Ada-belum-penuh” pertama-tama menunjukan sebuah realitas
kekurangan. Tetapi, jika disimak lebih dalam, manusia sebagai “ada-belum-penuh”
justru menampilkan
kreativitas. Seakan-akan di dalam diri manusia terdapat “ruang kosong” untuk
diisi sesamanya. Dengan demikian “ada-belum-penuh” memungkinkan orang lain untuk
memenuhinya.
Konsep tentang manusia sebagai
“ada-belum-penuh” menjelaskan kodrat relasional. Manusia berelasi artinya manusia
memberi ruang agar manusia lain memenuhi dirinya. Kehadiran orang lain lantas
menjadi penuh makna. Kehadiran orang lain “memenuhi” kekurangan dari “aku”. (Armada
Riyanto, Aku dan Liyan, Malang: Widya
Sasana Publication, 2011, hlm.18-19).
Siapakah Orang Lain ?
Orang lain
adalah manusia yang berada di luar badanku. Tapi bukan berarti yang berada di
luar kesadaranku. “Aku” menyadari bahwa orang lain itu ada, sebagaimana aku
sendiri adalah ada. Orang lain juga menyadari akan keberadaan diriku. Karena
orang lain juga ikut dalam ceritaku. Orang lain juga turut merangkai cerita
tentang “aku”.
Pada dasarnya hubungan manusia
menurut tiga dimensi, yaitu pada dunia, pada sesama manusia, dan pada Allah[2].
Namun dalam praktek hidup sehari-hari manusia lebih banyak berhubungan dengan
sesamanya manusia. Ada sebuah ungkapan “manusia dibentuk oleh lingkungannya”[3].
Lingkungan yang dimaksud adalah sesama atau orang lain yang berada di
sekelilingku. Karena dari merekalah “aku” tahu tentang dunia dan dari mereka
pula “aku” belajar tentang dunia.
Dalam kehidupan sehari-sehari
manusia seolah-olah disibukkan dengan dirinya sendiri. Manusia merajut dunianya
sendiri, sehingga kurang memberikan makna pada kehadiran orang lain. Padahal
sejatinya manusia sangat membutuhkan orang lain untuk dapat hidup. “Aku” dan
orang lain tak dapat terpisahkan sehingga untuk mengenal dirinya secara utuh ia
membutuhkan orang lain yang menilai dan memberikan tanggapan atas semua tentang
dirinya[5].
Manusia tidak dapat hidup sendiri
tanpa kehadiran orang lain. Hal ini sangat sederhana sehingga banyak orang
tidak menyadarinya. Contoh kecil, dalam hal makan “aku” memerlukan orang lain untuk memasaknya, membutuhkan
orang lain untuk menyediakannya, belum lagi segala peralatan makan pasti dibuat
oleh orang lain. Dan banyak hal yang menandakan “aku” tidak
bisa lepas dari orang lain.
Maka dapat dikatakan sebuah
keegoisan terbesar bila ada ungkapan bahwa “aku bisa hidup sendiri” atau “aku tidak
membutuhkan orang lain”. Dalam sebuah relasi manusia membutuhkan dan merindukan
orang lain untuk berbagi seperti; teman,
sahabat, pacar, istri atau suami. Semakin jelaslah bahwa setiap pribadi selalu
menyisakan “tempat kosong” untuk diisi orang lain. Dengan demikian kehadiran
orang lain menjadi sangat bermakna dan tak dapat disangkal. Maka tidak
mengherankan bila ada orang yang rela bunuh diri ketika putus cinta karena
kehilangan bagian dari dirinya. Sebab ia menganggap pacar, istri atau suaminya
bagian dari kepenuhannya yang tidak tergantikan.
Sebuah “Relasi”
Relasi[6]
mempunyai arti yang sangat luas bisa berbicara, berkontak, berhubungan,
berkomunikasi dan sebagainya. Namun intinya
relasi mengandaikan adanya kontak antara dua orang atau lebih. Syaratnya relasi
bisa tejadi apabila “aku” memiliki kesadaran mengenai “ke-aku-annya” dengan
ciptaan lain yang juga memiliki kesadaran tentang “ke-aku-annya”[7].
Ketika manusia memaknai kehadiran orang lain
sebagai bagian dari kepenuhannya maka terjadilah sebuah relasi yang harmonis.
Manusia terus-menerus berelasi dengan sesamanya; dengan orang tua, keluarga,
teman, masyarakat dan dunia. Ketika lahir ia membutuhkan ibu untuk mengurusnya,
ketika bermain ia membutuhkan teman-teman sebagai kelompok bermainnya, dan
seterusnya sampai ia mati. Maka dapat disimpulkan dalam setiap aktivitas
hidupnya seorang manusia selalu berhubungan dengan manusia-manusia lainnya.
Aku dan Orang Lain Harus Bersatu
Manusia hidup di dunia, dunia yang
dipenuhi banyak orang. Manusia tidak bisa hidup sendirian maka hakikatnya
manusia tidak bisa dilepaskan dari orang lain. Manusia juga tidak bisa
menyangkal kehadiran orang lain dan tidak dapat merajut dunianya sendiri tanpa
ada kehadiran orang lain di dalamnya. Sebab orang lain semakin mengukuhkan
“aku” yang penuh. Tidaklah mengherankan kalau dalam diri setiap manusia selalu
menyisakan “ruang kosong” untuk diisi orang lain.
“Aku” dan orang lain harus bersatu
agar kehadiranku dan kehadiran orang lain tidaklah sia-sia sehingga terjadilah
relasi sempurna[8].
Relasi yang saling melengkapi dan memenuhi karena orang lain bagian dari
kepenuhanku.
[1] Armada Riyanto, Aku dan Liyan, Malang: Widya Sasana
Publication, 2011, hlm. 3.
[2] P Leenhouwers, Manusia dalam Lingkungannya, Jakarta:
Gramedia, 1988, hlm. 190.
[3] Bdk. Brian Fay, Filsafat Ilmu Sosial Kontemporer,Yogyakarta:
Jendela, 2002, hlm. 99.
[4] Bdk. P Leenhouwers, Op.Cit. hlm., 193.
[5] Bdk. Ibid, hlm. 192.
[7] Bdk. Armada Riyanto, Aku dan Liyan, Malang: Widya Sasana
Publication, 2011, hlm.12-13.
8 Bdk. Ibid, hlm.19.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar