Rabu, 16 Mei 2012

Aku Bagian Orang Lain

FILSAFAT “AKU”
Tujuan berfilsafat adalah mencari sebuah kebenaran sejati. Pertama-tama filsafat harus dimulai dengan kesadaran tentang “aku”. Di dalam “aku” tersimpan sebuah kebenaran sejati yang tak ternilai.
Apakah “aku” itu? Filsafat dimulai dari pertanyaan. Pertanyaan adalah bentuk keheranan dan  rasa kagum yang “memaksa” kita untuk mencari jawaban atasnya, itulah berfilsafat.  Kembali ke pertanyaan “Apakah aku itu?”. “Aku” adalah “ada”, ada yang bukan berarti tidak hilang. Pengetahuanku tentang  aku “ada” adalah kesadaran bahwa “aku” manusia “ada” dalam kepenuhannya. Tidak cukup kita hanya sadar tahu mengenai asal, kelemahan, kekuatan, karakter, nama, dan sebagainya karena itu semua hanya sebuah informasi tentang “aku’. Hal itu belum merupakan kesadaran tentang aku. Kesadaran “aku” melebihi pengamatan inderawi manusia. Kesadaran “aku” sekaligus sesuatu yang invibillis[1] yaitu jiwa. Jiwa dan raga adalah dua prinsip yang membentuk “aku”, walaupun keduanya saling bertentangan. Apa yang diinginkan jiwa belum tentu apa yang diinginkan raga begitu pula sebaliknya. Jiwa prinsipnya kekal abadi sedangkan raga prinsip fana, hanya sementara, mudah rusak dan hilang. Tapi keduanya berpadu dalam diri “aku” manusia.



Di dalam kesadaran akan “aku” termuat harta benda yang berharga, yang harus senantiasa  digali dan dibagikan (diaktualisasikan) dalam hidup. Karena di dalamnya tersimpan semua kebenaran yang sungguh-sungguh indah. Manusia sadar akan akan “aku” yang ada yang utuh (penuh). Memang kodratnya diciptakan lain daripada yang lain. “Aku”  sebagai ada yang istimewa, istimewa karena aku “ada” bukan berarti ada yang tidak hilang atau tidak ada di tempat. Tapi kesadaran akan “ke-aku-an”ku itu yang tidak dimiliki mahkluk  ciptaan lainnya. Istimewa karena “aku” bisa berpikir, mempunyai akal budi. Cogito Ergo Sum (aku berpikir maka aku ada) dideklarasikan Descartes mau menegaskan bahwa manusia sangat istimewa dari binatang. Memang “aku” binatang tapi binatang yang berakal budi.
Kesadaran “aku” juga membawa penyadaran aku yang subjektif bukan objektif. Artinya aku sadar bahwa aku aktor utama dalam seluruh aktivitas manusiaku. Bukan milik tangan atau kakiku dan anggota tubuh yang lainnya yang merupakan pembentuk keutuhan diriku sebagai manusia yang “ada”. Misalnya aku menendang bola, yang menendang bola bukan hanya kaki saja tapi aku. Yang jelas aku menendang menggunakan kakiku karena menendang sebuah aktivitas. Makna “aku” subjektif adalah aku pemilik semua realitas ke-ada-an-ku.
Aku subjektif juga membawa kodrat aku dialogal (berelasi). Aku yang berelasi membutuhkan yang lain yang juga harus memiliki kesadaran akan “keakuannya” dan itulah yang memungkinkan adanya relasi. Karena “aku” yang lain semakin mengukuhkan “aku” yang penuh dan subjek. Manusia tidak dapat berelasi dengan dirinya sendiri. Maka Ortega y Gaset mengatakan “aku” masih menyisakan “ruang kosong” untuk diisi “aku” yang lain[2]. Aku sebagai pribadi membutuhkan orang lain untuk semakin mendukung “aku” sebagai suatu realitas yang penuh. Misalnya untuk mempunyai baju aku harus membeli dari orang lain, bahannya dibuat orang lain, dan sebagainya. Hal yang penting aku merindukan seseorang untuk memenuhi bagian diriku yang kosong untuk saling berbagi dan melengkapi. Aku tak bisa lepas dari orang lain, mereka bagian dari kemanusianku, bagian dari kehadiranku.
Tuhan menciptakan manusia dengan kesadaran keakuannya yang subjek, penuh, berelasi dan sebagainya. Tidak hanya agar “aku” dapat berhubungan dengan alam dan “aku” yang lain, tapi pertama-tama agar “aku” dapat berelasi dengan Tuhan. Tuhan menyapa aku menanggapi, Tuhan bertanya aku menjawab. Itulah inti sari dari kesadaran “aku”, relasi antara “aku” dan Penciptanya. Satu hal yang perlu dicatat relasi aku dengan Tuhan akan baik apabila relasiku dengan alam dan sesama manusia baik, begitu pula sebaliknya.
Seperti yang dijelaskan di atas. “Aku” yang ada mempunyai dua prinsip dasar jiwa dan raga (badan). Jiwa merindukan pembebasan dari kurungan raga agar bahagia. Tapi bagaimana pun juga kenyataannya “aku” hidup dalam dunia yang fana. Maka dapat diartikan bahwa hidup ini hanya sementara sekedar mampir minum. Menunggu kapan jiwa bebas dari raga. Dalam proses menunggu ini apakah “aku” hanya duduk dan diam saja?? Tidak! “aku” harus melakukan kebajikan-kebajikan untuk sesamaku, alamku, dan Tuhanku. Nah!! Itulah filsafat sejati mencari kebenaran sejati dan melakukan kebenaran sejati. Bukan filsafat yang mengawang-awang tapi nyata dalam perkataan dan perbuatan sehari-hari untuk sampai kepada Allah Sang “Aku adalah Aku yang Ada” (Kel 3:14).   
FILSAFAT “LIYAN”        
            Sebelum mengetahui tentang “Liyan” pertama harus mengenali diri sendiri “Know Your Self”. Berbagai macam ilmu pengetahuan diberikan agar manusia dapat mengenal dirinya. Know Your Self” sebuah kesadaran untuk terus mencari kebijaksanaan.
            Dalam Filsafat Timur “the self” adalah “Atman”. Atman yang abadi, di luar akal budi, tak bisa disentuh oleh pengalaman inderawi, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Atman sumber kebijaksanaan sejati itu yang hadir dalam diri semua orang. Apabila manusia masuk ke dalam Atman. Ia akan menemukan kebahagiaan, memeluk kebijaksanaan dan memberinya kesegaran air hidup yang indah. Maka dapat dikatakan Atman adalah Tuhan sendiri. Tuhan yang hadir dalam aku dan orang lain[3]. Otomatis Liyan harus dihormati sebab tanda kehadiran Sang Absolut.
            Tapi kenyataannya!! Dari zaman ke zaman “liyan” identik dengan subyek penderita, orang yang disingkirkan, orang yang tak dikehendaki, dan berada di luar peradaban. Maka Sartre mendeklarasikan ungkapan “hell is the other” yang “mengagungkan” eksistensi diri. Bukan berarti menolak keberadaan orang lain bahkan melenyapkannya. Tapi seorang eksistensialis merangkai dunianya sendiri tanpa harus diganggu orang lain. Selama orang tidak mengganggu duniaku, aku juga tidak mengganggu duniamu.
            Seorang eksistensialis sadar bahwa tidak bisa lepas dari orang lain. Eksistensialisme lahir dari ketidaknyamanan dalam masyarakat. Ia ikut aktif dalam hidup bermasyarakat dengan sikap kritisnya pada ketidakadilan. Ia tidak menyetujui hukum dan aturan yang membatasi manusia untuk mengekspresikan dirinya. Baginya hukumlah yang me”liyan”kan. Baginya manusia memiliki kebebasan mutlak untuk mengatur dirinya sendiri. Tanpa ada sesuatu yang mengekang seolah-olah mengendalikan semuanya.
            Siapakah “liyan” bagi eksitensialis?. Liyan adalah orang yang mengancam dunianya. Orang yang merampas kebebasanku dan kepenuhan aktualisasi diriku. Kebebasan yang mutlak dalam eksistensialis, adalah kebebasan yang bertanggungjawab pada diri sendiri dan orang lain. Maka sangat jelas “tanggung jawab” yang dapat menciptakan dunia yang lebih harmonis.




















[1] Invibillis= kasat mata, tidak bisa dilihat mata inderawi.
[2] Istilah Ortega y Gaset “ada-belum-penuh”
[3]Agama Hindu India meyakini Atman adalah Tuhan yang ada dalam setiap individu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar